Skripsi
Rethinking Poverty in the Digital Era: Multidimensional Digital Poverty Measurements, Determinants, and Evidence from Indonesia
Meninjau Ulang Kemiskinan di Era Digital: Pengukuran Kemiskinan Digital Multidimensional, Determinan, dan Bukti dari Indonesia
Pengarang:
Kleovan Nathanael Gunawan - ; Prani Sastiono (Penguji) - ; Putu Geniki Lavinia Natih (Pembimbing/Promotor) - ; Desita Prabawati Ratna (Penguji) -
Deskripsi
Kemiskinan adalah konsep yang dinamis, beragam, dan multidimensi. Definisi kemiskinan terus mengalami perkembangan seiring dengan dinamika budaya, teknologi, dan sosial. Digitalisasi saat ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari- hari yang membuka peluang sekaligus tantangan karena adanya perbedaan dalam akses, penggunaan, dan kemampuan digital antar individu. Hal ini mendorong perlunya redefinisi dari kemiskinan dalam perspektif digital multidimensi yang masih luput dari perhatian penelitian sebelumnya. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan indikator pengukuran kemiskinan digital yang relevan di Indonesia dan menjelaskan faktor-faktor determinannya. Dengan memanfaatkan data Susenas 2023, hasil penelitian menunjukkan bahwa 74,29% penduduk Indonesia tergolong miskin digital, dengan tingkat yang jauh lebih tinggi di wilayah perdesaan. Kemiskinan digital dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari sosio-demografis, seperti usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin, status perkawinan; maupun faktor ekonomis seperti tingkat pengeluaran dan pekerjaan; hingga faktor infrastruktur serta kondisi disabilitas maupun network effect. Implikasinya, untuk mengatasi kemiskinan digital, diperlukan bauran kebijakan komprehensif yang tidak hanya berfokus pada aspek infrastruktur tetapi juga penggunaan dan keterampilan digital masyarakat untuk memaksimalkan potensi ekonomi digital secara merata dalam rangka mencapai Target Pembangunan Berkelanjutan maupun Visi Indonesia Emas 2045.