Tesis
Evaluasi Budaya Risiko pada Salah Satu Perusahaan Daerah di Kalimantan (Studi Kasus PT. Air Minum ABC)
Risk Culture Evaluation in a Regional-Owned Enterprise in Kalimantan (Case Study of PT. Air Minum ABC)
Pengarang:
Dzakiyah Nur Azmie - ; Viska Anggraita (Pembimbing/Promotor) - ; Widya Perwitasari (Penguji) - ; Sylvia Veronica Nalurita Purnama Siregar (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi budaya risiko pada PT. Air Minum ABC (Perseroda) menggunakan kerangka The Institute of Risk Management (IRM) 2012 melalui pendekatan kepribadian risiko (Risk Type Compass), etika individu (MoralDNA), dan dari perspektif organisasi (Risk Culture Aspect Model). Data primer dikumpulkan melalui survei terhadap 94 pegawai dan wawancara mendalam dengan Ketua Satgas Manajemen Risiko dan Satuan Pengawas Intern serta menggunakan data sekunder yang diperoleh dari dokumen internal PT. Air Minum ABC. Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pegawai memiliki kecenderungan berhati-hati dan analitis, dengan dominasi tipe Deliberate, Prudent, dan Wary yang mencerminkan pengambilan keputusan logis dan terencana. Kelompok manajerial mencatat skor lebih tinggi hampir di semua tipe, sementara kelompok non-manajerial menunjukkan kecenderungan moderat, mengindikasikan perlunya penguatan kapasitas risiko di tingkat pelaksana. Hasil MoralDNA menunjukkan nilai etika personal yang tinggi dan seimbang pada dimensi Kepatuhan, Logika, dan Kepedulian, yang cenderung meningkat seiring usia dan masa kerja. Pada tingkat organisasi, budaya risiko PT. Air Minum ABC memperoleh skor kategori Hijau, menunjukkan bahwa budaya risiko di organisasi telah kuat, serta telah terintegrasi secara menyeluruh dalam proses pengambilan keputusan dan tata kelola organisasi, sejalan dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh IRM (2012). Aspek Risk Leadership (kepemimpinan risiko) dan Informed Risk Decision (pengambilan keputusan berbasis risiko) menjadi kekuatan utama, sedangkan aspek seperti Dealing with Bad News (merespons kabar buruk), Accountability (akuntabilitas), Risk Transparency (transparansi risiko), Risk Resources (sumber daya pengelolaan risiko), dan Risk Skills (kompetensi risiko) masih memerlukan penguatan. Adapun aspek Rewarding Appropriate Risk Taking (apresiasi terhadap pengambilan risiko yang tepat) mencatat skor terendah yaitu kategori Kuning, menandakan belum optimalnya sistem penghargaan atas perilaku sadar risiko. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan sistem formal yang selaras dengan profil kepribadian dan etika individu untuk membangun budaya risiko yang berkelanjutan di seluruh organisasi.