Penerapan Kebijakan Badan Layanan Umum pada Bandar Udara: Analisis Efisiensi Bandar Udara di Indonesia dengan Pendekatan Data Envelopment Analysis
Implementation of Public Service Agency at Airports: Analysis of Airport Efficiency in Indonesia Using Data Envelopment Analysis Approach
Pengarang:
Rofi'i - ; Widyono Soetjipto (Pembimbing/Promotor) - ; Khoirunurrofik (Penguji) - ; Riyanto (Penguji) -
Deskripsi
Penerapan kebijakan Badan Layanan Umum (BLU) pada bandar udara (bandara) regional di Indonesia merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan pelayanan bandara sebagai barang publik. Sudah ada sepuluh bandara yang dipilih sebagai bandara dengan penerapan kebijakan BLU di tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses penerapan kebijakan BLU pada bandara regional di Indonesia dengan berdasarkan nilai efisiensi bandara dengan pendekatan Data Envelopment Analysis. Kinerja bandara BLU cenderung sudah baik tetapi perlu adanya peningkatan kinerja dalam proses perencanaan strategi bisnis dan proses evaluasi kinerja karena efisiensi dan kinerja bandara cenderung menurun setelah kebijakan BLU diterapkan walaupun perbedaan yang terjadi tidak signifikan. Hasil analisis model menunjukkan bahwa kebijakan BLU cenderung diterapkan pada bandara regional yang sudah efisien dengan delapan bandara yang sudah efisien dan dua bandara belum efisien saat penerapan kebijakan BLU. Bandara APT Pranoto Samarinda mengalami inefisiensi karena layanan kargo yang dimiliki belum maksimal. Bandara Kalimarau Berau belum efisien karena jumlah penumpang, kargo, dan pergerakan pesawat yang dilayani masih di bawah kapasitas optimal bandara. Penerapan kebijakan BLU, kebijakan tarif, dan jumlah wisatawan domestik tidak signifikan mempengaruhi nilai efisiensi bandara BLU. Variabel-variabel yang signifikan mempengaruhi nilai efisiensi bandara BLU adalah jarak bandara dari pusat kota dan PDRB per kapita.