Dampak Perang Dagang AS-Tiongkok Terhadap Ekspor Sektor Manufaktur Indonesia ke Amerika Serikat dan Tiongkok Tahun 2014-2024
Impact of the US Trade War-China on Indonesian Manufacturing Sector Exports to the United States and China in 2014-2024
Pengarang:
Nanda Hasanul Amri - ; Yohanna M. L. Gultom (Pembimbing/Promotor) - ; Widyono Soetjipto (Penguji) - ; Muhammad Hanri (Penguji) -
Deskripsi
Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sejak tahun 2018 telah mengubah dinamika perdagangan global dan menciptakan peluang serta tantangan baru bagi negara ketiga seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perang dagang AS–Tiongkok terhadap kinerja ekspor sektor manufaktur Indonesia ke kedua negara tersebut selama periode 2014–2024. Dengan menggunakan pendekatan teori gravitasi perdagangan yang dimodifikasi, penelitian ini mengestimasi model data panel berbasis produk (kode HS6), negara tujuan (AS dan Tiongkok), dan tahun, untuk menangkap efek langsung dan tidak langsung dari kebijakan proteksionisme global. Penelitian ini menggunakan dummy perang dagang untuk periode 2018–2021, dengan dua skenario periode penelitian: (1) sebelum dan selama konflik (2014–2021), dan (2) selama dan pasca-konflik (2018–2024), guna menguji konsistensi hasil secara temporal. Dummy perang dagang kemudian diinteraksikan dengan variabel ekonomi utama, yaitu negara tujuan ekspor, PDB negara mitra, tarif impor MFN, dan nilai impor Indonesia dari masing-masing mitra dagang, untuk menangkap efek heterogen dari proteksionisme global terhadap kinerja ekspor Indonesia. Data diperoleh dari sumber internasional seperti Trade Map, World Bank, WTO, dan CEPII. Model diestimasi dengan metode Fixed Effects yang dipilih berdasarkan hasil uji Hausman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perang dagang berdampak signifikan terhadap pola ekspor Indonesia. Terdapat indikasi trade diversion ke pasar AS, terutama untuk produk yang sebelumnya diimpor dari Tiongkok. Sebaliknya, ekspor ke Tiongkok cenderung terdampak negatif selama periode konflik akibat gangguan rantai pasok dan tekanan permintaan domestik. Interaksi antara dummy perang dagang dan tarif menunjukkan bahwa proteksionisme berdampak heterogen tergantung karakteristik produk dan negara mitra dagang. Implikasi kebijakan dari temuan ini menunjukkan pentingnya strategi diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan daya saing produk manufaktur nasional, serta perlunya antisipasi terhadap risiko geopolitik dalam kebijakan perdagangan luar negeri Indonesia.