Hubungan Antara Dana Alokasi Khusus dan Pengentasan Kemiskinan: Studi Empiris pada Kabupaten/Kota Berstatus Tertinggal dan Non-Tertinggal di Indonesia
The Relationship between Special Allocation Funds And Poverty Alleviation: An Empirical Study of Lagging and Non-Lagging Regencies/Municipalities in Indonesia
Pengarang:
Santi Natalia Letelay - ; Riatu Mariatul Qibthiyyah (Pembimbing/Promotor) - ; Muhammad Halley Yudhistira (Penguji) - ; Sartika Djamaluddin (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Dana Alokasi Khusus (DAK) secara agregat maupun berdasarkan komponen (DAK Fisik dan DAK Nonfisik) terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia, dengan mempertimbangkan perbedaan efek heterogenitas antara wilayah tertinggal dan non-tertinggal. Analisis dilakukan pada data panel sebanyak 380 Kabupaten/Kota selama periode 2015–2023 dan mengestimasinya melaui pendekatan model Fixed Effects (FEM). Hasil estimasi menunjukkan bahwa secara nasional, hanya DAK Nonfisik memiliki korelasi negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan, sementara total DAK dan DAK Fisik tidak berpengaruh secara signifikan. Di daerah tertinggal, DAK secara agregat berpengaruh negatif signifikan, namun tidak demikian untuk komponen fisik dan nonfisiknya. Sebaliknya, di daerah non-tertinggal, hanya DAK Nonfisik yang efektif menurunkan kemiskinan. Temuan lebih lanjut mengungkapkan adanya perbedaan efek berdasarkan karakteristik geografis pada kelompok daerah tertinggal, di mana daerh tertinggal yang berbentuk wilayah kepulauan, DAK agregat dan DAK Fisik terbukti signifikan menurunkan kemiskinan, sementara pada kategori wilayah daratan dan daratan-kepulauan efeknya tidak signifikan. Hasil ini menegaskan bahwa efektivitas transfer fiskal sangat bergantung pada kondisi spasial dan sektoral daerah penerima, sehingga penyusunan kebijakan DAK ke depan perlu lebih kontekstual, responsif, dan berbasis karakteristik kewilayahan guna memperkuat peran DAK sebagai instrumen fiskal yang strategis dalam pengentasan kemiskinan.