Hubungan Pendigitalan Bantuan Pangan terhadap Tingkat Kecukupan Pangan di Indonesia
The Relation of Food Aid Digitization on the Level of Food Security in Indonesia
Pengarang:
Vivi Winta Ningsih Ritonga - ; Jossy Prananta Moeis (Pembimbing/Promotor) - ; Putu Geniki Lavinia Natih (Penguji) - ; Yohanna M. L. Gultom (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan bantuan pangan terhadap tingkat kecukupan pangan rumah tangga di Indonesia. Penyaluran bantuan pangan secara in-kind (Rastra, Beras Sejahtera) dengan secara cash/digital (BPNT, Bantuan Pangan Non Tunai) dibandingkan untuk membuktikan apakah dengan digitalisasi bantuan pangan dapat mengurangi tingkat kerawanan pangan. Pendekatan kuantitatif dengan metoda Ordinary Least Square (OLD) diterapkan pada 8 (delapan) tahun data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2015-2022. Kemudian, pendekatan kualitatif dengan metoda in-depth interview kepada penerima bantuan pangan dilakukan untuk mendukung dan melengkapi kajian kuantitatif. Hasil penelitian kuantitatif membuktikan bahwa pendigitalan bantuan pangan memiliki pengaruh yang signifikan dalam menurunkan tingkat kecukupan pangan pada rumah tangga yang eligible sebagai penerima bantuan. Hasil serupa juga terjadi pada seluruh kelompok rumah tangga sebagai penerima bantuan yang memiliki pengeluaran di bawah garis kemiskinan. Sebaliknya, bantuan pangan dalam bentuk Rastra dan BPNT memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan kecukupan pangan pada seluruh kelompok rumah tangga baik yang eligible maupun non eligible.
Selain itu, terdapat kesalahan inklusi dan eksklusi dalam distribusi bantuan yang memengaruhi efektivitas program. Dari hasil in-depth interview juga diperoleh hasil bahwa penetapan penerima bantuan pangan diprioritaskan untuk keluarga yang memiliki hubungan kerabat dengan pejabat RT dan RW setempat.
Mekanisme penyaluran BPNT perlu dievaluasi menyeluruh mengingat program ini terbukti memiliki hubungan yang signifikan dalam menurunkan tingkat kecukupan pangan pada rumah tangga yang eligible dan non eligible sebagai penerima bantuan. Evaluasi harus mencakup proses penyaluran, besaran bantuan, serta ketepatan sasaran penerima. Upaya memperbaiki akses pangan melalui stabilisasi harga pangan juga perlu menjadi prioritas untuk mengatasi ketidakcukupan pangan secara berkelanjutan.
Selain itu, terdapat kesalahan inklusi dan eksklusi dalam distribusi bantuan yang memengaruhi efektivitas program. Dari hasil in-depth interview juga diperoleh hasil bahwa penetapan penerima bantuan pangan diprioritaskan untuk keluarga yang memiliki hubungan kerabat dengan pejabat RT dan RW setempat.
Mekanisme penyaluran BPNT perlu dievaluasi menyeluruh mengingat program ini terbukti memiliki hubungan yang signifikan dalam menurunkan tingkat kecukupan pangan pada rumah tangga yang eligible dan non eligible sebagai penerima bantuan. Evaluasi harus mencakup proses penyaluran, besaran bantuan, serta ketepatan sasaran penerima. Upaya memperbaiki akses pangan melalui stabilisasi harga pangan juga perlu menjadi prioritas untuk mengatasi ketidakcukupan pangan secara berkelanjutan.