Dampak Kebijakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Terhadap Komposisi Tenaga Kerja Sektoral di Wilayah KEK
The Impact of Special Economic Zone (SEZ) Policy on Sectoral Labor Composition in SEZ Areas
Pengarang:
Meri Perdana Putri - ; Khoirunurrofik (Pembimbing/Promotor) - ; Putu Geniki Lavinia Natih (Penguji) - ; Uka Wikarya (Penguji) -
Deskripsi
Disparitas pembangunan ekonomi antarwilayah mendorong hadirnya intervensi kebijakan. Salah satu pendekatan yang diadopsi negara berkembang, termasuk Indonesia, adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yang diharapkan mampu mendorong pembangunan ekonomi lebih bernilai tinggi, berdaya saing internasional, dan mempercepat transformasi dari sektor tradisional ke sektor berproduktivitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan KEK terhadap komposisi tenaga kerja sektoral di 14 provinsi yang memiliki KEK dan telah beroperasi selama periode 2010–2023. Dengan menggunakan seluruh kabupaten dan kota di provinsi tersebut sebagai unit analisis dan pendekatan Staggered Difference-in-Differences (DiD), hasil estimasi menunjukkan bahwa kebijakan KEK secara signifikan memengaruhi komposisi tenaga kerja sektoral di wilayah KEK. Rata-rata, sektor primer mengalami penurunan tenaga kerja 6,8 poin persentase, sementara sektor sekunder mengalami peningkatan 12,6 poin persentase dibandingkan wilayah tanpa KEK, dan tidak ditemukan dampak signifikan pada sektor tersier. Analisis heterogenitas mengindikasikan dampak kebijakan lebih besar di wilayah non-Jawa, khususnya di sektor primer dan sekunder. KEK berorientasi manufaktur juga menunjukkan dampak lebih besar terhadap peningkatan tenaga kerja di sektor sekunder. Temuan ini menyimpulkan bahwa kebijakan KEK berkontribusi pada tahap awal transformasi struktural regional melalui perubahan komposisi tenaga kerja sektoral.