Dampak Pembangunan Base Transceiver Station (BTS) Terhadap Tingkat Kriminalitas di Daerah 3T
The Impact of Base Transceiver Station (BTS) Construction on Crime Rates in 3T Areas
Pengarang:
Sarah Syafitri - ; Yohanna M. L. Gultom (Pembimbing/Promotor) - ; Muhammad Hanri (Penguji) - ; Muhammad Halley Yudhistira (Penguji) -
Deskripsi
Indonesia telah memasuki era transformasi digital di mana akses terhadap teknologi komunikasi menjadi kebutuhan dasar masyarakat modern. Namun, pemerataan akses digital masih menjadi tantangan besar, terutama di wilayah yang tergolong 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Sebelum intervensi pemerintah, ribuan desa di daerah 3T tidak memiliki layanan seluler maupun internet memadai. Base Transceiver Station (BTS) hadir sebagai infrastruktur pemancar sinyal telekomunikasi seluler yang memegang peran kunci dalam menghadirkan konektivitas di daerah-daerah blank spottersebut. Selain kesenjangan digital, daerah 3T juga memiliki kerentanan tinggi terhadap terjadinya kriminalits dikarenakan belum meratanya pembangunan infrastruktur. Untuk itu, penelitian ini membahas mengenai dampak pembangunan BTS terhadap kriminalitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan Difference-in-Difference (DiD) yang diambil dari data Potensi Desa (PODES) pada dua titik tahun yaitu 2021 dan 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pembangunan BTS memberikan dampak signifikan positif sebesar 1,7 – 1,8 poin presentase. Artinya, semakin maraknya Pembangunan BTS, maka tingkat kriminalitas menjadi semakin tinggi. Untuk itu, pembangunan infrastruktur BTS perlu dilengkapi dengan kemampuan SDM di daerah tersebut, seperti literasi digital dan pengetahuan terhadap risiko penggunaan internet.