The Effect of Kartu Prakerja Training on Employment Formality in Indonesia
Efek Pelatihan Kartu Prakerja terhadap Formalitas Pekerjaan di Indonesia
Pengarang:
Farhan Hafiz - ; Dwini Handayani (Pembimbing/Promotor) - ; Mohamad Soleh Nurzaman (Penguji) - ; Farma Mangunsong (Penguji) -
Deskripsi
Studi ini mengevaluasi efek Program Kartu Prakerja Indonesia terhadap formalitas pekerjaan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mengandalkan klasifikasi pekerjaan formal konvensional berdasarkan status pekerjaan, studi ini menerapkan ICLS ke-21 untuk membedakan antara “pekerjaan formal aman” dan “pekerjaan formal rentan.” Dengan data Survei Tenaga Kerja Nasional (SAKERNAS) Februari 2024, analisis ini menggunakan Propensity Score Matching (PSM) untuk mengurangi bias seleksi. Dua model regresi logistik digunakan untuk memberikan estimasi efek program terhadap formalitas pekerjaan (konvensional) dan keamanan pekerjaan, yang diklasifikasikan berdasarkan adanya kontrak tertulis dan jaminan sosial yang disediakan oleh pemberi kerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan memiliki efek negatif yang signifikan. Peserta yang menyelesaikan pelatihan Prakerja 3,71 poin persentase lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki pekerjaan di sektor formal dan 6,5 poin persentase lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki pekerjaan formal yang aman dibandingkan dengan yang tidak menyelesaikan pelatihan Prakerja. Hasil ini mengindikasikan bahwa pelatihan Prakerja diasosiasikan dengan prevalensi yang lebih tinggi pada pekerjaan informal dan pekerjaan formal yang rentan, dibandingkan dengan pekerjaan formal dan aman. Studi ini menyimpulkan bahwa pelatihan jangka pendek berperan sebagai komplementer, bukan substitusi, bagi pendidikan formal dan literasi digital yang diperlukan untuk memiliki pekerjaan formal yang aman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan memiliki efek negatif yang signifikan. Peserta yang menyelesaikan pelatihan Prakerja 3,71 poin persentase lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki pekerjaan di sektor formal dan 6,5 poin persentase lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki pekerjaan formal yang aman dibandingkan dengan yang tidak menyelesaikan pelatihan Prakerja. Hasil ini mengindikasikan bahwa pelatihan Prakerja diasosiasikan dengan prevalensi yang lebih tinggi pada pekerjaan informal dan pekerjaan formal yang rentan, dibandingkan dengan pekerjaan formal dan aman. Studi ini menyimpulkan bahwa pelatihan jangka pendek berperan sebagai komplementer, bukan substitusi, bagi pendidikan formal dan literasi digital yang diperlukan untuk memiliki pekerjaan formal yang aman.