Assessing the Feasibility of Local Currency Transaction Among the BRICS+ Nations
Menilai Kelayakan Transaksi Mata Uang Lokal di Antara Negara-negara BRICS+
Pengarang:
Kenez Adroo Ufairoh - ; Telisa Aulia Falianty (Pembimbing/Promotor) - ; Dwini Handayani (Penguji) - ; Cania Adinda Sinaga (Penguji) -
Deskripsi
Dominasi USD yang masif telah menciptakan kerentanan ekonomi bagi kelompok negara berkembang terhadap kebijakan moneter AS, sehingga mendorong inisiasi dedolarisasi melalui penggunaan mata uang lokal. Namun, sayangnya masih terdapat heterogenitas struktur ekonomi diantara negara anggota kerjasama regional negara berkembang yang menjadikan penerapan implementasi kerjasama moneter menjadi sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan implementasi kebijakan Local Currency Transaction (LCT) di kawasan BRICS+ melalui pengukuran indikator deviasi nilai tukar nominal dan rill terhadap BRICS+ Monetary Unit (BMU) serta perhitungan Optimum Currency Area (OCA) Index guna melihat kondisi stabilitas nilai tukar negara anggota BRICS+.
Hasil analisis deskriptif menunjukkan adanya heterogenitas struktur ekonomi dan ketidakselarasan kondisi makroekonomi, yang tercermin dari perbedaan pola inflasi dan besaran GDP saat PPP dan nominal yang dapat menunjukkan respon terhadap guncangan ekonomi (asymmetric shocks) di antara anggota BRICS+. Meskipun demikian, hasil empiris menunjukkan bahwa masih terdapat stabilitas parsial yang tetap membuka ruang bagi penerapan koordinasi moneter terbatas seperti LCT sebagai langkah awal menuju integrasi yang lebih dalam. Penelitian ini juga mengidentifikasi potensi dominasi mata uang tertentu, seperti Renminbi China, yang dapat berperan sebagai jangkar stabilitas (anchor currency) dalam kerangka transaksi kawasan regional ini.
Hasil analisis deskriptif menunjukkan adanya heterogenitas struktur ekonomi dan ketidakselarasan kondisi makroekonomi, yang tercermin dari perbedaan pola inflasi dan besaran GDP saat PPP dan nominal yang dapat menunjukkan respon terhadap guncangan ekonomi (asymmetric shocks) di antara anggota BRICS+. Meskipun demikian, hasil empiris menunjukkan bahwa masih terdapat stabilitas parsial yang tetap membuka ruang bagi penerapan koordinasi moneter terbatas seperti LCT sebagai langkah awal menuju integrasi yang lebih dalam. Penelitian ini juga mengidentifikasi potensi dominasi mata uang tertentu, seperti Renminbi China, yang dapat berperan sebagai jangkar stabilitas (anchor currency) dalam kerangka transaksi kawasan regional ini.