Analisis Komparatif Implementasi Carbon Accounting pada Perusahaan Pertambangan Indonesia: Studi Kasus pada Antam, Adaro, dan Bukit Asam
Comparative Analysis of Carbon Accounting Implementation in Indonesian Mining Companies: A Case Study of Antam, Adaro, and Bukit Asam
Pengarang:
Melody Rusli - ; Viska Anggaraita (Pembimbing/Promotor) - ; Evony Silvino Violita (Penguji) - ; Yan Rahardian (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menganalisis secara komparatif implementasi carbon accounting pada tiga perusahaan pertambangan besar di Indonesia, yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Fokus penelitian terletak pada integrasi antara carbon accounting serta standar pelaporan keberlanjutan GRI 302 (Energy) dan GRI 305 (Emissions). Latar belakang penelitian didasari oleh meningkatnya tuntutan global dan nasional terhadap transparency emisi karbon serta penguatan digitalisasi pelaporan keberlanjutan, termasuk implementasi POJK No. 51/2017 sebagai acuan utama praktik pelaporan non-keuangan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode comparative content analysis terhadap laporan keberlanjutan periode 2022–2024 untuk mengevaluasi kualitas pengungkapan energi dan emisi berdasarkan empat karakteristik utama, yaitu relevance, clarity, transparency, dan comparability. Selain itu, penelitian menilai tingkat carbon management maturity masing-masing perusahaan dengan menggunakan Five-Stage Carbon Management Model (Suk, 2018). Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga perusahaan telah menerapkan carbon accounting secara relatif konsisten dengan standar GRI, terutama dalam pengungkapan emisi Scope 1 dan Scope 2. Namun, terdapat variasi signifikan dalam kedalaman pengungkapan Scope 3, transparency metodologi, dan keterperincian data intensitas energi. Integrasi digital non-financial reporting (DNFR) mulai terlihat melalui peningkatan aksesibilitas dan struktur digital laporan, meskipun tingkat digitalisasi konten berbasis machine-readable masih terbatas. Dari perspektif carbon management maturity, ANTM menunjukkan pendekatan yang lebih terintegrasi dengan strategi keberlanjutan jangka panjang, ADRO menonjol dalam pengembangan sistem pemantauan emisi berbasis digital, sedangkan PTBA menunjukkan konsistensi dalam pengungkapan namun masih berada pada fase pertumbuhan menuju integrasi strategis. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa integrasi carbon accounting dan DNFR berkontribusi pada peningkatan kualitas pengungkapan karbon serta menjadi faktor penting dalam memperkuat kesiapan perusahaan menghadapi transisi menuju ekonomi rendah karbon.