Apakah Skema WFH Mendorong Atau Menghambat Terwujudnya Pekerjaan Layak di Indonesia
Does Work From Home (WFH) Promote or Hinder the Achievement of Decent Work in Indonesia?
Pengarang:
Muhammad Fadhil - ; Padang Wicaksono (Pembimbing/Promotor) - ; Dewi Ratna Sjari M. (Penguji) - ; Farma Mangunsong (Penguji) -
Deskripsi
Perkembangan teknologi digital dan perubahan pola kerja pasca pandemi mendorong semakin luasnya penerapan skema Work From Home (WFH) di Indonesia. Meskipun WFH sering dipersepsikan sebagai bentuk fleksibilitas kerja yang meningkatkan kesejahteraan pekerja, bukti empiris mengenai dampaknya terhadap kualitas pekerjaan masih bersifat ambigu, khususnya dalam konteks negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh WFH terhadap peluang pekerja berada pada kategori pekerjaan layak (decent work) di Indonesia. Menggunakan data mikro Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Agustus 2023 dengan cakupan nasional, pekerjaan layak diukur sebagai variabel kategorik lima tingkat yang dibentuk dari kombinasi pendapatan relatif terhadap upah minimum kabupaten/kota dan jam kerja mingguan. Pendekatan empiris yang digunakan adalah model Multinomial Logit untuk mengestimasi perubahan probabilitas pekerja berada pada setiap kategori pekerjaan layak berdasarkan status WFH, dengan mengontrol karakteristik individu dan pekerjaan. Hasil estimasi menunjukkan bahwa bekerja dari rumah tidak meningkatkan peluang pekerja berada pada kategori pekerjaan sangat layak. Sebaliknya, WFH dikaitkan dengan penurunan peluang pekerja berada pada kategori pekerjaan layak serta peningkatan peluang berada pada kategori pekerjaan tidak layak. Temuan ini mengindikasikan bahwa fleksibilitas lokasi kerja tidak secara otomatis diterjemahkan menjadi peningkatan pekerjaan layak, khususnya dalam konteks pasar kerja Indonesia.