Skripsi
Manual That Matter: The Power of Step-by-step Guides and the Moderating Role of Culture on Repair Willingness
Manual yang Bermakna: Peran Panduan Langkah demi Langkah dan Moderasi Budaya terhadap Kesediaan untuk Memperbaiki
Deskripsi
Seiring dengan terus meningkatnya limbah elektronik (e-waste), pemberdayaan konsumen
untuk memperbaiki produk mereka menjadi semakin krusial. Perbaikan mandiri (self-repair)
menawarkan strategi yang menjanjikan untuk mengurangi limbah elektronik dengan
memperpanjang masa pakai produk. Untuk mendukung perilaku ini, panduan perbaikan
langkah demi langkah dapat berfungsi sebagai alat yang efektif dalam menyederhanakan
proses perbaikan serta meningkatkan kepercayaan diri konsumen. Budaya merupakan topik
yang sangat menarik dalam penelitian perilaku konsumen, namun signifikansinya dalam
membentuk praktik perbaikan sering kali diabaikan. Meskipun budaya memiliki potensi
untuk memengaruhi bagaimana individu merespons intervensi perbaikan, penelitian yang
mengkaji faktor budaya dalam konteks perbaikan mandiri masih relatif terbatas. Tesis ini
mengkaji pengaruh panduan perbaikan langkah demi langkah terhadap kesediaan konsumen
untuk melakukan perbaikan mandiri pada produk elektronik. Selain itu, penelitian ini juga
mengeksplorasi apakah jarak budaya—khususnya dimensi individualisme versus
kolektivisme—memoderasi hubungan tersebut. Penelitian ini berfokus pada Indonesia dan
Belanda, dua negara dengan karakteristik budaya yang kontras serta tantangan pengelolaan
limbah elektronik yang berbeda. Berdasarkan desain eksperimen berbasis survei, temuan
penelitian menunjukkan bahwa panduan perbaikan secara signifikan meningkatkan
kesediaan konsumen untuk terlibat dalam perbaikan mandiri. Namun demikian, jarak budaya
tidak secara signifikan memoderasi pengaruh tersebut, yang mengindikasikan bahwa
kegunaan panduan perbaikan dapat melampaui batas-batas budaya. Tesis ini ditutup dengan
pembahasan mengenai implikasi teoretis dan praktis, keterbatasan penelitian, serta arah
penelitian di masa mendatang.
untuk memperbaiki produk mereka menjadi semakin krusial. Perbaikan mandiri (self-repair)
menawarkan strategi yang menjanjikan untuk mengurangi limbah elektronik dengan
memperpanjang masa pakai produk. Untuk mendukung perilaku ini, panduan perbaikan
langkah demi langkah dapat berfungsi sebagai alat yang efektif dalam menyederhanakan
proses perbaikan serta meningkatkan kepercayaan diri konsumen. Budaya merupakan topik
yang sangat menarik dalam penelitian perilaku konsumen, namun signifikansinya dalam
membentuk praktik perbaikan sering kali diabaikan. Meskipun budaya memiliki potensi
untuk memengaruhi bagaimana individu merespons intervensi perbaikan, penelitian yang
mengkaji faktor budaya dalam konteks perbaikan mandiri masih relatif terbatas. Tesis ini
mengkaji pengaruh panduan perbaikan langkah demi langkah terhadap kesediaan konsumen
untuk melakukan perbaikan mandiri pada produk elektronik. Selain itu, penelitian ini juga
mengeksplorasi apakah jarak budaya—khususnya dimensi individualisme versus
kolektivisme—memoderasi hubungan tersebut. Penelitian ini berfokus pada Indonesia dan
Belanda, dua negara dengan karakteristik budaya yang kontras serta tantangan pengelolaan
limbah elektronik yang berbeda. Berdasarkan desain eksperimen berbasis survei, temuan
penelitian menunjukkan bahwa panduan perbaikan secara signifikan meningkatkan
kesediaan konsumen untuk terlibat dalam perbaikan mandiri. Namun demikian, jarak budaya
tidak secara signifikan memoderasi pengaruh tersebut, yang mengindikasikan bahwa
kegunaan panduan perbaikan dapat melampaui batas-batas budaya. Tesis ini ditutup dengan
pembahasan mengenai implikasi teoretis dan praktis, keterbatasan penelitian, serta arah
penelitian di masa mendatang.