Tesis
Hubungan Infrastruktur Pencairan terhadap Produktivitas Padi di Indonesia: Peran Kebijakan Pupuk Bersubsidi
The Impact of Irrigation Infrastructure on Rice Productivity in Indonesia: The Role of Fertilizer Subsidies
Pengarang:
Aziz Fauzul Adzim - ; Khoirunurrofik (Pembimbing/Promotor) - ; Widyono Soetjipto (Penguji) - ; Robert Arthur Simanjuntak (Penguji) -
Deskripsi
Ketahanan pangan menjadi isu strategis di Indonesia di tengah tekanan perubahan iklim,
volatilitas harga pangan global, dan gangguan rantai pasok, sehingga peningkatan
produktivitas padi menjadi prioritas kebijakan nasional. Meskipun produktivitas padi
relatif tinggi, ketimpangan antarwilayah, khususnya antara Jawa dan luar Jawa masih
mencerminkan ketidakmerataan akses terhadap faktor produksi utama, terutama
infrastruktur pengairan dan input pertanian. Pemerintah mengalokasikan anggaran besar
untuk pupuk bersubsidi, namun peningkatan belanja tersebut tidak selalu diikuti oleh
kenaikan produktivitas, yang mengindikasikan pentingnya peran faktor pendukung lain
serta potensi interaksi antara pupuk dan ketersediaan air.
Penelitian ini menggunakan data panel 32 provinsi di Indonesia periode 2013–2023 dan
dianalisis menggunakan Fixed Effects Model (FEM) untuk mengestimasi pengaruh
infrastruktur pengairan terhadap produktivitas padi serta menilai peran kebijakan pupuk
bersubsidi dalam memoderasi hubungan tersebut, dengan mengendalikan heterogenitas
tetap antarprovinsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interaksi pupuk bersubsidi dan irigasi tidak
signifikan, sehingga pupuk bersubsidi tidak memoderasi pengaruh irigasi terhadap
produktivitas padi. Irigasi secara konsisten berpengaruh positif dan signifikan pada
seluruh model, sedangkan pupuk Urea dan NPK tidak signifikan dan cenderung berarah
negatif. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas padi lebih ditentukan
oleh kualitas infrastruktur pengairan dibandingkan efektivitas pupuk bersubsidi, yang
perlu dievaluasi ulang agar lebih tepat sasaran.
volatilitas harga pangan global, dan gangguan rantai pasok, sehingga peningkatan
produktivitas padi menjadi prioritas kebijakan nasional. Meskipun produktivitas padi
relatif tinggi, ketimpangan antarwilayah, khususnya antara Jawa dan luar Jawa masih
mencerminkan ketidakmerataan akses terhadap faktor produksi utama, terutama
infrastruktur pengairan dan input pertanian. Pemerintah mengalokasikan anggaran besar
untuk pupuk bersubsidi, namun peningkatan belanja tersebut tidak selalu diikuti oleh
kenaikan produktivitas, yang mengindikasikan pentingnya peran faktor pendukung lain
serta potensi interaksi antara pupuk dan ketersediaan air.
Penelitian ini menggunakan data panel 32 provinsi di Indonesia periode 2013–2023 dan
dianalisis menggunakan Fixed Effects Model (FEM) untuk mengestimasi pengaruh
infrastruktur pengairan terhadap produktivitas padi serta menilai peran kebijakan pupuk
bersubsidi dalam memoderasi hubungan tersebut, dengan mengendalikan heterogenitas
tetap antarprovinsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interaksi pupuk bersubsidi dan irigasi tidak
signifikan, sehingga pupuk bersubsidi tidak memoderasi pengaruh irigasi terhadap
produktivitas padi. Irigasi secara konsisten berpengaruh positif dan signifikan pada
seluruh model, sedangkan pupuk Urea dan NPK tidak signifikan dan cenderung berarah
negatif. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas padi lebih ditentukan
oleh kualitas infrastruktur pengairan dibandingkan efektivitas pupuk bersubsidi, yang
perlu dievaluasi ulang agar lebih tepat sasaran.