Tesis
Aglomerasi Ekonomi & Emisi Karbon di Indonesia: Analisis Empiris dengan Pendekatan Model Stirpat
Economic Agglomeration & Carbon Emissions in Indonesia: Empirical Analysis Using the STIRPAT Model Approach
Pengarang:
Ryvanu Adi Nugroho - ; Djoni Hartono (Pembimbing/Promotor) - ; Ashintya Damayanti (Penguji) - ; Milda Irhami (Penguji) -
Deskripsi
Peningkatan konsentrasi aktivitas ekonomi di wilayah perkotaan sering dipandang sebagai pendorong efisiensi, namun implikasinya terhadap lingkungan, khususnya emisi karbon, masih menunjukkan hasil yang beragam. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh linear maupun non-linear ekonomi aglomerasi terhadap emisi karbon per kapita di Indonesia dengan menekankan peran kepadatan tenaga kerja sebagai indikator konsentrasi aktivitas ekonomi. Kerangka analisis mengintegrasikan konsep ekonomi aglomerasi ke dalam model STIRPAT guna menangkap dinamika struktural dan spasial pada tingkat kabupaten/kota. Penelitian ini menggunakan data panel kabupaten/kota di Indonesia dengan pendekatan ekonometrika panel data. Hasil estimasi menunjukkan bahwa peningkatan kepadatan tenaga kerja berhubungan negatif dengan emisi karbon per kapita, yang mengindikasikan adanya potensi efek efisiensi dari aglomerasi. Namun, besaran elastisitas yang relatif kecil menunjukkan bahwa manfaat efisiensi tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan emisi yang berasal dari pertumbuhan ekonomi dan ketergantungan pada energi fosil. Analisis heterogenitas wilayah mengungkapkan bahwa efek aglomerasi tidak bersifat seragam; wilayah dengan tingkat kepadatan dan diversifikasi ekonomi yang lebih tinggi cenderung menunjukkan potensi efisiensi yang lebih besar dibandingkan wilayah yang didominasi oleh sektor padat energi dan ekstraktif. Temuan ini menyiratkan bahwa ekonomi aglomerasi di Indonesia belum sepenuhnya berfungsi sebagai instrumen dekarbonisasi. Efektivitasnya sangat bergantung pada struktur sektor ekonomi, kualitas infrastruktur, serta kebijakan pendukung yang mampu mengarahkan proses aglomerasi menuju jalur pembangunan rendah karbon. Oleh karena itu, penguatan aglomerasi perlu diiringi dengan transformasi struktural dan kebijakan lingkungan yang konsisten agar manfaat ekonomi tidak berujung pada peningkatan tekanan lingkungan.