Skripsi
Dependence on Russian Fossil Fuel Imports and Renewable Energy Share in the European Union Countries
Pengarang:
Amira Nisa Adli - ; Alin Halimatussadiah (Pembimbing/Promotor) - ; Widyono Soetjipto (Penguji) - ; Rizki Nauli Siregar (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini mengkaji apakah ketergantungan pada impor bahan bakar fosil Rusia berasosiasi dengan pangsa konsumsi energi primer terbarukan di negara-negara Uni Eropa (UE), dengan membedakan hubungan jangka pendek dan jangka panjang. Analisis menggunakan data panel untuk negara-negara UE dari tahun 1990 hingga 2023. Berlandaskan teori ketergantungan sumber daya serta konsep structural path dependence dan carbon lock-in, penelitian ini berargumen bahwa ketergantungan pada pemasok eksternal dan infrastruktur bahan bakar fosil yang berumur panjang dapat menghambat transisi energi. Secara empiris, penelitian ini menerapkan model Panel Autoregressive Distributed Lag (ARDL) yang diestimasi menggunakan pendekatan Pooled Mean Group (PMG) untuk membedakan dinamika jangka pendek dari hubungan keseimbangan jangka panjang. Ketergantungan pada impor bahan bakar fosil Rusia diukur sebagai rasio impor dari Rusia, mencakup gas alam, batu bara keras, batu bara coklat, dan minyak mentah (dikonversi ke terajoule jika diperlukan), terhadap gross available energy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan pada impor bahan bakar fosil Rusia berasosiasi negatif dan signifikan dengan pangsa energi terbarukan dalam jangka panjang, mengindikasikan bahwa ketergantungan struktural pada bahan bakar fosil Rusia menghambat ekspansi energi terbarukan dari waktu ke waktu. Dalam jangka pendek, tidak ditemukan asosiasi agregat yang signifikan, meskipun terdapat heterogenitas yang cukup besar antar negara, dengan sebagian negara menunjukkan respons jangka pendek positif dan sebagian lainnya negatif. Temuan ini memberikan bukti empiris yang dapat menginformasikan strategi UE dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil Rusia sekaligus mendukung ekspansi energi terbarukan, serta menekankan pentingnya mengatasi structural path dependence dalam sistem energi, karena infrastruktur dan institusi bahan bakar fosil yang sudah ada dapat memperlambat transisi menuju energi terbarukan apabila tidak ditangani secara tepat waktu.