Skripsi
Analisis Dinamika Risiko Saham Sektor Perbankan Indonesia Selama Periode Kebijakan Tarif Trump dan Perang Dagang Amerika Serikat–Tiongkok Pendekatan DCC-GARCH dan Spillover Volatilitas
Pengarang:
Muhammad Tariq Ilhan - ; Rofikoh Rokhim (Pembimbing/Promotor) - ; Ruslan Prijadi (Penguji) - ; Dwi Sulistyorini Amidjono (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menganalisis dinamika risiko saham BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan BNLI selama 2017–2020 dengan menempatkan perubahan harian Economic Policy Uncertainty Amerika Serikat (EPUShock) sebagai proksi guncangan ketidakpastian eksternal pada periode kebijakan tarif Trump dan perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok. Volatilitas kondisional diestimasi menggunakan model GARCH, korelasi dinamis antara EPUShock dan return saham diestimasi melalui DCC-GARCH, sedangkan keterhubungan volatilitas antarbank diukur menggunakan spillover index Diebold–Yilmaz berbasis generalized forecast error variance decomposition. Saham sektor pertambangan digunakan sebagai kelompok pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volatilitas saham bank bersifat persisten dan meningkat rata-rata 22,43 persen setelah eskalasi dimulai pada 22 Maret 2018, sedangkan kenaikan sektor pertambangan sebesar 3,03 persen. Namun, korelasi kondisional EPUShock–return saham bank tetap sangat lemah dan tidak berubah secara signifikan, yaitu dari −0,0195 menjadi −0,0191. Dengan demikian, pengaruh ketidakpastian eksternal lebih jelas tercermin pada peningkatan intensitas volatilitas daripada hubungan kontemporer dengan EPUShock. Total Spillover Index seluruh periode mencapai 33,51 persen, meningkat dari 12,69 persen sebelum eskalasi menjadi 33,74 persen selama eskalasi dan 47,38 persen pada 2020. Secara keseluruhan, BMRI, BBCA, dan BBRI berperan sebagai net transmitter, sedangkan BBNI dan BNLI sebagai net receiver, meskipun pusat transmisi berubah mengikuti rezim guncangan. Temuan ini menunjukkan bahwa diversifikasi hanya di antara saham perbankan menjadi kurang efektif ketika keterhubungan meningkat. Strategi portofolio perlu mempertimbangkan volatilitas kondisional, korelasi dinamis, posisi transmisi risiko, dan fundamental masing-masing bank secara terpadu.