Skripsi
Adopsi Layanan Transportasi Sepeda Motor Listrik Berbasis Aplikasi Sebagai Solusi Mobilitas Berkelanjutan: Studi Extended C-TAM-TPB Pada Generasi Z di Jakarta
Pengarang:
Aulia Az’Zahrasyah - ; Nurmala (Pembimbing/Promotor) - ; Ratih Dyah Kusumastuti (Penguji) - ; Juliana Rouli (Penguji) -
Deskripsi
Seiring dengan pesatnya urbanisasi di DKI Jakarta yang memicu lonjakan
mobilitas, kebutuhan akan dekarbonisasi sektor transportasi kini menjadi krusial guna
menekan krisis polusi udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor
yang memengaruhi intensi sub-populasi mahasiswa Generasi Z di DKI Jakarta dalam
mengadopsi moda transportasi ramah lingkungan, khususnya layanan transportasi sepeda
motor listrik berbasis aplikasi. Menggunakan model integrasi Extended Technology
Acceptance Model–Theory of Planned Behavior (C-TAM-TPB), data dikumpulkan dari
188 responden mahasiswa melalui kuesioner mandiri (self-reported data) dengan desain
cross-sectional, kemudian dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares
Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil pengujian model struktural
menunjukkan bahwa niat mahasiswa murni digerakkan oleh faktor eksternal, di mana
variabel Subjective Norms (SN) dan Perceived Behavioral Control (PBC) berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Intention to Use (IN). Seluruh variabel eksternal (Social
Influence, Environmental Concern, Perceived Value, dan Perceived Trust) juga terbukti
sukses mendongkrak persepsi kegunaan (Perceived Usefulness/PU) dan kemudahan
penggunaan (Perceived Ease of Use/PEU) teknologi ini. Namun, penelitian ini
menemukan sebuah anomali krusial di mana jalur langsung Attitude (ATT) tidak
memiliki pengaruh signifikan terhadap IN, sehingga ATT gagal berfungsi sebagai
variabel mediator meskipun dibentuk secara signifikan oleh PU dan PEU. Melalui lensa
Status Quo Bias Theory dan Innovation Resistance Theory (IRT), kegagalan ini memicu
fenomena Green Attitude-Behavior Gap. Meskipun mahasiswa menilai layanan ini sangat
positif, niat nyata mereka luntur akibat kuatnya ketergantungan pada motor bensin
konvensional serta adanya hambatan risiko (risk barrier) operasional perkotaan—seperti
range anxiety dan keterbatasan infrastruktur baterai di wilayah sub-urban (Bodetabek)
yang mengganggu efisiensi waktu mobilitas harian mereka. Anomali dan keterbatasan
data berimplikasi pada lemahnya daya prediksi model (weak), dengan nilai R-square
pada variabel utama IN yang hanya mencapai 16,1%. Implikasi manajerial menyarankan
penyedia layanan untuk fokus pada strategi priority dispatching, pemberian student tier
pricing, dan perluasan stasiun penukaran baterai di wilayah penyangga guna
meruntuhkan resistensi konsumen.
mobilitas, kebutuhan akan dekarbonisasi sektor transportasi kini menjadi krusial guna
menekan krisis polusi udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor
yang memengaruhi intensi sub-populasi mahasiswa Generasi Z di DKI Jakarta dalam
mengadopsi moda transportasi ramah lingkungan, khususnya layanan transportasi sepeda
motor listrik berbasis aplikasi. Menggunakan model integrasi Extended Technology
Acceptance Model–Theory of Planned Behavior (C-TAM-TPB), data dikumpulkan dari
188 responden mahasiswa melalui kuesioner mandiri (self-reported data) dengan desain
cross-sectional, kemudian dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares
Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil pengujian model struktural
menunjukkan bahwa niat mahasiswa murni digerakkan oleh faktor eksternal, di mana
variabel Subjective Norms (SN) dan Perceived Behavioral Control (PBC) berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Intention to Use (IN). Seluruh variabel eksternal (Social
Influence, Environmental Concern, Perceived Value, dan Perceived Trust) juga terbukti
sukses mendongkrak persepsi kegunaan (Perceived Usefulness/PU) dan kemudahan
penggunaan (Perceived Ease of Use/PEU) teknologi ini. Namun, penelitian ini
menemukan sebuah anomali krusial di mana jalur langsung Attitude (ATT) tidak
memiliki pengaruh signifikan terhadap IN, sehingga ATT gagal berfungsi sebagai
variabel mediator meskipun dibentuk secara signifikan oleh PU dan PEU. Melalui lensa
Status Quo Bias Theory dan Innovation Resistance Theory (IRT), kegagalan ini memicu
fenomena Green Attitude-Behavior Gap. Meskipun mahasiswa menilai layanan ini sangat
positif, niat nyata mereka luntur akibat kuatnya ketergantungan pada motor bensin
konvensional serta adanya hambatan risiko (risk barrier) operasional perkotaan—seperti
range anxiety dan keterbatasan infrastruktur baterai di wilayah sub-urban (Bodetabek)
yang mengganggu efisiensi waktu mobilitas harian mereka. Anomali dan keterbatasan
data berimplikasi pada lemahnya daya prediksi model (weak), dengan nilai R-square
pada variabel utama IN yang hanya mencapai 16,1%. Implikasi manajerial menyarankan
penyedia layanan untuk fokus pada strategi priority dispatching, pemberian student tier
pricing, dan perluasan stasiun penukaran baterai di wilayah penyangga guna
meruntuhkan resistensi konsumen.