Skripsi
Dampak Digitalisasi terhadap Sofistikasi Ekspor di Negara-Negara Asia-Pasifik
Pengarang:
Nur Muhamad Abdussalam - ; Mohamad Dian Revindo (Pembimbing/Promotor) - ; Nachrowi D. Nachrowi (Penguji) - ; I Made Krisna Yudhana Wisnu Gupta (Penguji) -
Deskripsi
Studi cross-country mengenai dampak digitalisasi terhadap export sophistication umumnya mengasumsikan hubungan linear positif, sementara studi tingkat perusahaan justru menemukan pola non-linear. Penelitian ini merekonsiliasi inkonsistensi tersebut dengan menguji secara eksplisit bentuk hubungan antara digitalisasi dan indeks export sophistication (EXPY) di kawasan Asia-Pasifik periode 2000-2024. Menggunakan data panel 17 negara (167 observasi) dengan sampel pembanding global 105 negara (1.115 observasi), estimasi Two-Way Fixed Effects dilengkapi System GMM untuk validasi kausal pada sampel global. Hasil utama menunjukkan hubungan U-shaped antara penetrasi fixed broadband dan EXPY, dengan titik balik pada kisaran 38-39 langganan per 100 penduduk yang konsisten di kedua sampel. Uji formal Lind-Mehlum mengkonfirmasi pola ini pada sampel global (p=0.026), sementara sampel Asia-Pasifik menunjukkan indikasi serupa yang tidak mencapai signifikansi statistik, kemungkinan akibat keterbatasan daya uji pada 167 observasi. Analisis heterogenitas berdasarkan tingkat pembangunan mengungkap bahwa pola U-shape terkonfirmasi secara robust pada subsample negara maju (Lind-Mehlum p=0.034), sementara negara berkembang yang mayoritas observasinya terkonsentrasi di sisi kiri titik balik belum menunjukkan pola serupa secara statistik, konsisten dengan interpretasi distribusional dari temuan utama. Mobile subscriptions menunjukkan pola konkaf dengan diminishing returns, yang diinterpretasikan sebagai cerminan perbedaan fungsional antara infrastruktur akses dan infrastruktur produktivitas. Mayoritas negara berkembang Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, masih berada di sisi kiri titik balik, di mana investasi broadband belum termanifestasi sebagai peningkatan kapabilitas ekspor karena dua prasyarat yang belum terpenuhi yaitu tercapainya critical mass threshold dan pembangunan kapabilitas komplementer secara paralel.