Skripsi
Bytes Displacing Bricks: Does Global Digital Supply Shock Reshape Indonesia Local Labor Market?
Pengarang:
Anindya Ayu Putri Paramitha - ; Mari Elka Pangestu (Pembimbing/Promotor) - ; I Made Krisna Yudhana Wisnu Gupta (Penguji) - ; Rizki Nauli Siregar (Pembimbing/Promotor) - ; Mohamad Ikhsan (Penguji) -
Deskripsi
Pesatnya perkembangan perdagangan digital global telah mengubah proses difusi teknologi internasional dengan memungkinkan negara berkembang mengakses teknologi digital mutakhir melalui impor perangkat lunak, layanan komputasi awan, platform digital, dan berbagai produk digital lainnya. Sebagai negara net importir produk digital, Indonesia semakin mengalami digitalisasi sebagai guncangan penawaran digital global yang bersifat eksogen dan berpotensi mengubah dinamika pasar tenaga kerja lokal melalui difusi teknologi, bukan semata-mata inovasi domestik. Meskipun semakin penting, sebagian besar penelitian terdahulu masih menggunakan ukuran digitalisasi yang bersifat endogen, seperti penetrasi internet atau adopsi teknologi di tingkat perusahaan, sehingga sulit mengidentifikasi dampak kausal guncangan teknologi digital global. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak kausal guncangan penawaran digital global terhadap pangsa tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja pada sektor manufaktur dan jasa di Indonesia, sekaligus menguji heterogenitas dampaknya antara wilayah Jawa dan Non-Jawa. Penelitian menggunakan data tingkat kabupaten/kota sebanyak 514 wilayah selama periode 2018–2021 dengan mengombinasikan data perdagangan bilateral produk digital dari Stojkoski et al. (2024), data ketenagakerjaan, serta data ekonomi regional Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan endogenitas, penelitian menerapkan pendekatan instrumental variable Bartik shift-share yang diestimasi menggunakan metode Two-Stage Least Squares (2SLS), dengan instrumen berupa prediksi paparan berdasarkan pertumbuhan impor produk digital di negara berkembang pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guncangan penawaran digital global tidak berpengaruh signifikan terhadap pangsa tenaga kerja manufaktur, tetapi meningkatkan pangsa tenaga kerja jasa berkeahlian tinggi serta produktivitas tenaga kerja manufaktur, terutama pada pekerja berkeahlian rendah. Dampak tersebut terkonsentrasi di wilayah Jawa, yang menunjukkan pentingnya kesiapan digital dan aset komplementer dalam menyerap teknologi digital impor. Temuan ini menekankan perlunya penguatan infrastruktur digital, modal manusia, dan kapasitas adopsi teknologi agar manfaat perdagangan digital dapat dirasakan secara lebih inklusif.