Skripsi
Norma Gender dan Fertilitas: Asosiasi Sikap terhadap Wife-Beating dan Jumlah Anak Ideal di Kalangan Dewasa Muda Menikah di Indonesia
Pengarang:
Skolastika Dania Larasati - ; Omas Bulan Samosir (Pembimbing/Promotor) - ; Hera Susanti (Penguji) - ; Paksi C.K. Walandouw (Penguji) -
Deskripsi
Penurunan Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia yang terus berlanjut dan diproyeksikan berada di bawah replacement level berpotensi menimbulkan tantangan jangka panjang bagi struktur penduduk, pemanfaatan bonus demografi, dan keberlanjutan fiskal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis asosiasi antara attitudes toward wife-beating dan jumlah anak ideal di Indonesia menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017, dengan unit analisis individu berstatus menikah berusia 18–40 tahun. Variabel attitudes toward wife-beating digunakan sebagai indikator norma gender dan diukur melalui dua spesifikasi, yaitu sebagai skor laten/komposit hasil Principal Component Analysis (PCA) dari lima indikator justifikasi kekerasan terhadap istri, serta sebagai lima variabel independen terpisah berdasarkan masing-masing alasan justifikasi. Dengan menggunakan regresi Poisson dan robust standard errors, penelitian ini menemukan bahwa skor attitudes toward wife-beating berasosiasi positif dan signifikan dengan jumlah anak ideal. Hasil regresi juga menunjukkan bahwa usia, status pekerjaan, dan jumlah anak lahir hidup berasosiasi positif dengan jumlah anak ideal, sedangkan daerah tempat tinggal, kuintil kekayaan, jenis kelamin, dan lama menikah berasosiasi negatif. Sementara itu, tingkat pendidikan menunjukkan pola asosiasi yang non-linear. Ketika lima alasan dianalisis secara terpisah, justifikasi kekerasan ketika istri pergi tanpa memberi tahu suami dan ketika istri menolak berhubungan seksual berasosiasi positif dan signifikan dengan jumlah anak ideal, sedangkan alasan lainnya tidak signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa preferensi fertilitas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, dan demografis, tetapi juga berkaitan dengan norma gender yang mengatur mobilitas, tubuh, dan otonomi perempuan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, upaya menjaga fertilitas yang tumbuh seimbang perlu berjalan seiring dengan penguatan kebebasan reproduksi, kesetaraan gender, dan penurunan toleransi terhadap kekerasan dalam rumah tangga.