Skripsi
Atap yang Rapuh: Kerentanan Hunian Antargenerasi di Indonesia
Pengarang:
Shafira Nasywa Khairunnisa - ; Irfani Fithria Ummul Muzayanah (Pembimbing/Promotor) - ; Dwini Handayani (Penguji) - ; Paksi C.K. Walandouw (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menganalisis asosiasi antara perbedaan generasi kepala rumah tangga (KRT) dan tingkat kerentanan hunian di Indonesia. Hunian merupakan salah satu kebutuhan dasar yang berperan penting dalam menentukan kesejahteraan masyarakat. Namun, kepemilikan atau keberadaan hunian tidak selalu menjamin terpenuhinya kondisi tempat tinggal yang layak, aman, dan berkelanjutan, terutama bagi generasi yang memasuki pasar perumahan dalam kondisi yang lebih tidak menguntungkan dibandingkan generasi sebelumnya. Penelitian ini menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2018–2024 dengan unit analisis rumah tangga. Tingkat kerentanan hunian diukur menggunakan Housing Precarity Index (HPI), yaitu indeks komposit yang mencakup dimensi keterjangkauan hunian (housing affordability), kapasitas finansial (financial capacity), kualitas hunian (housing quality), dan risiko bencana (disaster risk). Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik biner untuk mengestimasi probabilitas rumah tangga mengalami kerentanan hunian berdasarkan kelompok generasi kepala rumah tangga (KRT) dengan mengendalikan karakteristik sosial dan ekonomi rumah tangga. Penelitian-penelitian terdahulu umumnya menempatkan generasi muda sebagai kelompok yang paling rentan terhadap kerentanan hunian. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rumah tangga yang dipimpin oleh generasi yang lebih tua justru memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk mengalami kerentanan hunian. Selain itu, rumah tangga dengan kepala rumah tangga berpendidikan tinggi (minimal tamat S1/sederajat) memiliki probabilitas yang lebih rendah untuk mengalami kerentanan hunian. Hal sebaliknya berlaku pada rumah tangga dengan kepala rumah tangga yang bekerja di sektor formal serta rumah tangga yang berada di wilayah metropolitan, mereka memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk mengalami kerentanan hunian.