Skripsi
Apakah Siklus Pilkada Mendorong Deforestasi? Bukti dari Pilkada Langsung Kabupaten/Kota Indonesia 2005-2020
Pengarang:
Ruiza Rhavenala Rahman - ; Padang Wicaksono (Penguji) - ; Jahen Fachrul Rezki (Pembimbing/Promotor) - ; Femmy Roeslan (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menguji apakah pelaksanaan pemilihan kepala daerah langsung di tingkat kabupaten/kota berasosiasi dengan kehilangan hutan di Indonesia pada periode 2005–2020. Studi ini menggunakan data panel kabupaten/kota dengan ukuran kehilangan hutan tahunan yang dikonstruksi dari Global Forest Change dan data pelaksanaan Pilkada kabupaten/kota. Estimasi dilakukan menggunakan Poisson Quasi-Maximum Likelihood dengan two-way fixed effects kabupaten/kota dan tahun, serta kontrol ekonomi demografis berupa log PDRB, proporsi penduduk perkotaan, dan log populasi. Untuk menangkap dinamika temporal, penelitian ini mengestimasi hubungan antara Pilkada pada tahun (t) dan kehilangan hutan pada tahun pelaksanaan pemilihan hingga empat tahun setelahnya. Hasil agregat menunjukkan bahwa Pilkada berasosiasi dengan ekspektasi kondisional kehilangan hutan yang lebih rendah pada tahun pelaksanaan pemilihan, tetapi asosiasi tersebut tidak persisten pada rentang waktu pascapemilihan. Ketika periode estimasi dibagi ke dalam tiga fase, pola hubungan tidak stabil antarperiode: periode 2005–2009 tidak menunjukkan pola yang konsisten, periode 2010 2014 menunjukkan asosiasi negatif yang terkonsentrasi pada tahun pemilihan, sedangkan periode 2015–2020 menunjukkan indikasi pergeseran temporal ke satu tahun setelah pemilihan, tetapi hasil tersebut melemah dalam beberapa pemeriksaan robustness. Analisis heterogenitas menunjukkan bahwa pola agregat menutupi perbedaan regional yang substantif. Pada Non-Jawa, yang memiliki basis hutan dan tekanan konversi lahan lebih besar, Pilkada cenderung berasosiasi dengan ekspektasi kehilangan hutan yang lebih rendah pada fase awal dan tengah desentralisasi, tetapi asosiasi tersebut melemah setelah 2015. Sementara itu, hasil pada Jawa lebih tidak stabil dan perlu ditafsirkan secara hati hati karena basis hutan yang lebih terbatas dan keterbatasan variasi dalam subsampel. Secara keseluruhan, penelitian ini tidak menemukan bukti kuat bahwa Pilkada secara konsisten meningkatkan kehilangan hutan. Temuan ini lebih mendukung pembacaan bahwa hubungan antara siklus elektoral lokal dan kehilangan hutan bersifat kontekstual, tidak persisten, dan bergantung pada konfigurasi kelembagaan serta karakteristik ekologis wilayah.