Skripsi
Dinamika Kepemilikan Kas dan Dampaknya terhadap Nilai Perusahaan New dan Old Economy di Bursa Efek Indonesia
Pengarang:
Bryna Adhyasta - ; Muhammad Budi Prasetyo (Pembimbing/Promotor) - ; Rizky Luxianto (Penguji) - ; Zuliani Dalimunthe (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menguji apakah perusahaan new economy memiliki struktur
kepemilikan kas yang berbeda dari perusahaan old economy dan apakah pasar
memberikan penalti valuasi terhadap excess cash di Bursa Efek Indonesia selama periode
pascapandemi. Dengan menggunakan unbalanced panel yang terdiri atas 706 perusahaan
nonkeuangan dan nonutilitas selama 2021–2025, penelitian ini memperoleh 2.871
observasi firm-year. Estimasi dilakukan menggunakan pooled ordinary least squares
(OLS) dengan robust standard errors dan kontrol tahun, serta dilengkapi dengan estimasi
two-stage least squares (2SLS) sebagai uji ketahanan terhadap potensi endogenitas. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perusahaan new economy menahan kas rata-rata 2,72%
lebih tinggi dibandingkan perusahaan old economy, konsisten dengan kebutuhan
likuiditas yang lebih besar pada perusahaan berbasis inovasi dan pertumbuhan. Namun,
penelitian ini tidak menemukan bukti adanya hubungan kuadratik antara kepemilikan kas
dan Tobin’s Q. Uji ketahanan lebih lanjut menunjukkan bahwa excess cash tidak memiliki
pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Temuan ini menunjukkan bahwa pasar
modal Indonesia pascapandemi belum memberikan penalti valuasi yang jelas terhadap
kelebihan kas. Dalam konteks dominasi investor ritel dan kuatnya narasi pertumbuhan,
kas berlebih tampaknya lebih dipersepsikan sebagai sumber fleksibilitas strategis
daripada sebagai indikasi inefisiensi keagenan.
kepemilikan kas yang berbeda dari perusahaan old economy dan apakah pasar
memberikan penalti valuasi terhadap excess cash di Bursa Efek Indonesia selama periode
pascapandemi. Dengan menggunakan unbalanced panel yang terdiri atas 706 perusahaan
nonkeuangan dan nonutilitas selama 2021–2025, penelitian ini memperoleh 2.871
observasi firm-year. Estimasi dilakukan menggunakan pooled ordinary least squares
(OLS) dengan robust standard errors dan kontrol tahun, serta dilengkapi dengan estimasi
two-stage least squares (2SLS) sebagai uji ketahanan terhadap potensi endogenitas. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perusahaan new economy menahan kas rata-rata 2,72%
lebih tinggi dibandingkan perusahaan old economy, konsisten dengan kebutuhan
likuiditas yang lebih besar pada perusahaan berbasis inovasi dan pertumbuhan. Namun,
penelitian ini tidak menemukan bukti adanya hubungan kuadratik antara kepemilikan kas
dan Tobin’s Q. Uji ketahanan lebih lanjut menunjukkan bahwa excess cash tidak memiliki
pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Temuan ini menunjukkan bahwa pasar
modal Indonesia pascapandemi belum memberikan penalti valuasi yang jelas terhadap
kelebihan kas. Dalam konteks dominasi investor ritel dan kuatnya narasi pertumbuhan,
kas berlebih tampaknya lebih dipersepsikan sebagai sumber fleksibilitas strategis
daripada sebagai indikasi inefisiensi keagenan.