Skripsi
The Long-Run Economic Cost of Elite Persistence: Evidence from Indonesia’s Post-Authoritarian Transition
Pengarang:
Pramudya Putra Bintang - ; Jahen Fachrul Rezki (Pembimbing/Promotor) - ; Suryadi (Penguji) - ; Titissari (Penguji) -
Deskripsi
Studi ini mengkaji dampak persistensi elite era otoriter terhadap kinerja ekonomi regional di Indonesia setelah transisi demokrasi 1998. Setelah runtuhnya Orde Baru, bupati dan wali kota yang ditunjuk pada masa Soeharto tidak digantikan secara serentak, melainkan menyelesaikan sisa masa jabatannya. Variasi durasi paparan terhadap kepala daerah warisan rezim ini dimanfaatkan untuk mengidentifikasi pengaruh persistensi elite terhadap perkembangan ekonomi kabupaten/kota. Eksposur dalam studi ini dipahami sebagai waktu yang tersedia bagi elite Orde Baru untuk mengonsolidasikan kekuasaan de facto di bawah aturan demokratis yang baru. Dengan menggunakan pendekatan Two-Way Fixed Effects Difference-in-Differences (TWFE DiD) berbasis paparan kontinu dan event study DiD dinamis atas sampel 166 kabupaten/kota selama periode 1993–2020, studi ini mengestimasi dampak eksposur terhadap PDRB per kapita riil dan PDRB riil agregat. Hasil regresi statis menunjukkan bahwa satu tahun tambahan eksposur terhadap bupati/wali kota era Soeharto berasosiasi dengan penurunan PDRB agregat pasca-2003 sekitar 7,30 persen, sedangkan efek terhadap PDRB per kapita negatif namun tidak signifikan secara statistik. Lebih lanjut, hasil event study menunjukkan bahwa dampak negatif muncul secara gradual setelah 2008, mencapai magnitudo terbesar pada 2014, lalu melemah hingga akhir periode observasi. Analisis sektoral memberikan bukti indikatif bahwa dampak lebih besar terjadi pada sektor-sektor yang bergantung pada kewenangan dan regulasi lokal. Sementara itu, analisis heterogenitas menunjukkan pola negatif yang lebih besar di luar Jawa-Bali, daerah kaya sumber daya alam, dan daerah dengan basis dukungan Golkar yang lebih rendah, meskipun temuan ini bersifat eksploratif. Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa persistensi kepemimpinan lokal warisan era Soeharto berkaitan dengan kinerja ekonomi regional yang lebih lemah dalam jangka panjang, terutama melalui keberlanjutan pola kekuasaan dan institusi lokal yang terbentuk pada masa otoriter.