Skripsi
Pengaruh Hari dalam Seminggu terhadap Indeks Saham Syariah dan ESG di Indonesia dan Malaysia selama Periode 2015-2025
Pengarang:
Wahyu Febriansyah - ; Nur Dhani Hendranastiti (Pembimbing/Promotor) - ; Maria Ulpah (Penguji) - ; Adi Waskito (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menguji eksistensi dan arah Day-of-the-Week (DOW) effect pada Jakarta Islamic Index (JKII), SRI-KEHATI (JKSRI), FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah (FTFBMHS), dan FTSE4Good Bursa Malaysia (FTF4GBM) selama periode 2015-2025 dalam kerangka Adaptive Market Hypothesis (AMH). Data harga penutupan harian dari Refinitiv LSEG diestimasi melalui regresi OLS tanpa intersep bervariabel dummy hari perdagangan, divalidasi oleh GARCH(1,1) dan TGARCH(1,1), dengan lagged return, return nilai tukar harian, dan indeks Geopolitical Risk (GPR) sebagai variabel kontrol. Dari keempat hipotesis yang diajukan, hanya H2 yang terkonfirmasi berupa Tuesday effect positif eksklusif pada JKSRI sedangkan H1, H3, dan H4 tidak terdukung. Temuan dominan yang tidak diantisipasi adalah Friday effect negatif yang signifikan dan konsisten di seluruh indeks dan spesifikasi model, sehingga menolak prediksi weak form Efficient Market Hypothesis (EMH). Pola ini kompatibel dengan volatilitas tinggi dan kecenderungan distribusi informasi negatif menjelang akhir pekan serta bukti empiris return Jumat terendah pada pasar serupa, meskipun verifikasi kausal faktor-faktor tersebut berada di luar lingkup penelitian ini. Dari sisi perbandingan antarpasar, indeks Malaysia menunjukkan taraf signifikansi uji Wald lebih kuat pada taraf 1%, sedangkan indeks Indonesia mencatat besaran koefisien Jumat yang lebih besar yang mencerminkan dominasi investor institusional di Malaysia dan investor ritel di Indonesia. Dari sisi perbandingan antar-mekanisme screening, perbedaan bermakna hanya teridentifikasi di Indonesia dengan JKII menunjukkan Friday effect lebih dalam dibandingkan JKSRI, sementara JKSRI memiliki Tuesday effect positif yang eksklusif, sedangkan kedua indeks Malaysia berpola hampir identik seiring penerapan standardisasi metodologi FTSE Russell. Temuan secara keseluruhan konsisten dengan prediksi AMH bahwa anomali pasar bersifat kondisional terhadap kapasitas absorpsi informasi dan tekanan seleksi institusional masing-masing pasar.