Skripsi
Pengaruh Market Broadening terhadap Volatilitas IHSG: Analisis Menggunakan Proksi IHSG Equal-Weighted dan IDX Development Board dengan EGARCH model
Pengarang:
Wina Zenestri - ; Rahmat Aryo Baskoro (Pembimbing/Promotor) - ; Dewi Hanggraeni (Penguji) - ; Fajar Trijatmiko (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini mengkaji pengaruh market broadening terhadap volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada periode berikutnya di Bursa Efek Indonesia. Market broadening menggambarkan kondisi di mana kenaikan indeks pasar saham didukung oleh partisipasi yang luas dari banyak emiten, bukan hanya ditopang oleh segelintir saham berkapitalisasi besar yang mendominasi indeks. Penelitian ini mengadaptasi kerangka Valadkhani & O'Mahony (2025) ke konteks pasar berkembang Indonesia dengan mensubstitusi proksi yang disesuaikan dengan ketersediaan instrumen di BEI. IHSG Equal-Weighted (IHSG-EW) yang dikonstruksi olehpeneliti digunakan sebagai proksi pertama, sementara IDX Development Board Index (DBX) digunakan sebagai proksi kedua untuk merepresentasikan segmen emiten papan pengembangan atau saham non-dominan. Estimasi volatilitas bersyarat IHSG dilakukan menggunakan model EGARCH(1,1) atas data bulanan periode Februari 2004 hingga Desember 2025. Hasil estimasi menunjukkan bahwa market broadening berpengaruh negatif terhadap volatilitas IHSG pada periode berikutnya untuk kedua proksi. Koefisien IHSG-EW sebesar −1,7554 (z = −5,19; p = 0,000) signifikan kuat pada taraf 1%, sementara koefisien DBX sebesar −1,0378 (z = −1,93; p = 0,054) signifikan secara marginal pada taraf 10%. Temuan ini mengindikasikan bahwa penyebaran return yang lebih merata ke banyak emiten pada periode sebelumnya berkaitan dengan tingkat volatilitas IHSG yang lebih rendah, sehingga Hipotesis 1 terdukung. Terkait pola temporal, penelitian ini menemukan bahwa dinamika market broadening Indonesia tidak mengikuti pola inverted-U sebagaimana ditemukan di pasar Amerika Serikat. IHSG-EW menunjukkan kecenderungan peningkatan bertahap sepanjang periode pengamatan yang mencerminkan pendalaman basis emiten dan investor, sedangkan DBX menunjukkan pola U-shape yang mencerminkan siklus risk appetite terhadap saham papan pengembangan yang dipengaruhi oleh perubahan suku bunga, arus modal asing, dan kualitas mikrostruktur pasar. Dengan demikian, Hipotesis 2 tidak terdukung untuk kedua proksi, menunjukkan bahwa dinamika market broadening bersifat kontekstual dan tidak dapat diterapkan secara mekanis dari pasar maju ke pasar berkembang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kondisi pasar saham Indonesia sebaiknya tidak hanya dinilai dari level IHSG, melainkan juga mempertimbangkan seberapa luas saham-saham lain turut berkontribusi dalam pergerakan pasar, mengingat penyebaran return yang lebih luas berkaitan dengan volatilitas IHSG yang lebih rendah pada periode berikutnya.