Skripsi
Pengaruh Industrial Relations Climate dan Union Instrumentality terhadap Employee Voice dengan Mediasi Job Security pada Anggota Serikat Pekerja di Indonesia
Pengarang:
Ali As’ad Hisyam Dzaki - ; Aryana Satrya (Pembimbing/Promotor) - ; Ayu Aprilianti (Penguji) - ; Fanny Martdianty (Penguji) -
Deskripsi
Suara karyawan (employee voice) merupakan determinan penting bagi inovasi dan ketahanan organisasi, tetapi faktor pendorongnya pada konteks anggota serikat pekerja di negara berkembang masih belum banyak diteliti. Penelitian ini menginvestigasi secara empiris pengaruh industrial relations climate dan union instrumentality terhadap employee voice melalui peran job security sebagai mediator pada anggota serikat pekerja di Indonesia. Landasan teoritis penelitian ini adalah Conservation of Resources Theory (COR) dan Social Exchange Theory (SET) yang bersama-sama menjelaskan dua jalur kausal yaitu jalur langsung industrial relations climate dan union instrumentality terhadap employee voice serta jalur tidak langsung melalui job security. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert 6 poin dari 159 anggota serikat pekerja di seluruh wilayah Indonesia dan dianalisis menggunakan LISREL dengan teknik Covariance-Based Structural Equation Modeling (CB-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa industrial relations climate berpengaruh positif dan signifikan terhadap employee voice maupun job security. Job security berpengaruh positif dan signifikan terhadap employee voice serta terbukti memediasi secara parsial pengaruh industrial relations climate terhadap employee voice. Sebaliknya, union instrumentality tidak berpengaruh signifikan terhadap employee voice maupun job security yang dijelaskan oleh efek supresi akibat tingginya korelasi antara industrial relations climate dan union instrumentality dalam model struktural. Penelitian ini berkontribusi di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dengan menghadirkan bukti empiris atas rantai kausal industrial relations climate terhadap employee voice melalui job security dalam konteks serikat pekerja di Indonesia sekaligus mengisi celah literatur mengenai prediktor employee voice di negara berkembang dengan karakteristik power distance tinggi dan ketidakpastian regulasi ketenagakerjaan.