Skripsi
Spillover Or Still Over? Do Indonesia’s SEZS Leave Light and Environmental Signature Beyond Their Borders?
Pengarang:
Muhammad Ilham Pratama - ; Khoirunurrofik (Pembimbing/Promotor) - ; Paksi C.K. Walandouw (Penguji) - ; Titissari (Penguji) -
Deskripsi
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia telah menyerap investasi yang besar dengan premis bahwa efek aglomerasi akan spillover ke wilayah sekitarnya, namun apakah manfaat ekonomi dan biaya lingkungan benar-benar menjangkau kabupaten/kota tetangga masih belum banyak dipahami. Penelitian ini mengestimasi dampak kausal operasionalisasi KEK terhadap intensitas Night-Time Light dan emisi atmosfer di 514 kabupaten/kota Indonesia dari tahun 2010 hingga 2024. Treatment didefinisikan sebagai dummy berbasis jarak, bernilai satu jika titik pusat (centroid) suatu kabupaten/kota berada dalam radius 60 km dari KEK yang telah beroperasi, yang didefinisikan secara terpisah untuk klasifikasi KEK General, Manufaktur, dan Pariwisata. Estimator utama yang digunakan adalah Callaway and Sant'Anna Difference-in-Differences (CSDID), dengan Two-Way Fixed Effects (TWFE) sebagai pembanding. Pada tingkat kabupaten/kota secara nasional, tidak ada tipe KEK yang menghasilkan sinyal Night-Time Light yang signifikan, sementara efek terhadap polutan baru terlihat pada tingkat tipe KEK. KEK Pariwisata menghasilkan estimasi CO₂ dan NO₂ yang signifikan secara statistik, yang didorong oleh baseline emisi awal yang rendah, aktivitas fase konstruksi, dan jejak karbon akibat pariwisata yang bersifat persisten. KEK Manufaktur tidak menunjukkan sinyal yang terdeteksi baik pada dimensi ekonomi maupun lingkungan. Analisis cincin jarak (ring analysis) selanjutnya mengonfirmasi tidak adanya distance decay NTL pada radius berapa pun, sementara penyebaran CO₂ mengikuti pola non-monotonik, bukan pola yang didorong oleh kedekatan jarak (proximity-driven). Temuan ini mengindikasikan bahwa biaya lingkungan sudah mulai terakumulasi, sementara manfaat ekonomi belum menjangkau kabupaten/kota di sekitarnya. Namun demikian, temuan ini dibatasi oleh jendela waktu pasca-treatment yang pendek serta agregasi data pada tingkat kabupaten/kota.