Tesis
Peran Psychological Empowerment, Emotional Exhaustion, dan Affective Commitment dalam Memediasi Pengaruh High Performance Work Systems (HPWS) terhadap Kinerja Individu di Lembaga Pembina Manajemen ASN
Pengarang:
Dessy Chrisma Citra Hapsari - ; Putri Mega Desiana (Pembimbing/Promotor) - ; Riani Rachmawati (Penguji) - ; Muthia Pramesti (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme pengaruh penerapan High Performance Work Systems (HPWS) terhadap employee performance pada pegawai instansi pemerintah pusat yang berperan sebagai lembaga pembina manajemen ASN di Indonesia. Menggunakan kerangka teori Job Demands-Resources (JD-R), penelitian ini menguji peran mediasi psychological empowerment, emotional exhaustion, dan affective commitment untuk menjawab fenomena "kotak hitam" manajemen sumber daya manusia dan paradoks beban kerja di sektor publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui survei kuesioner terhadap 397 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan dianalisis menggunakan metode Covariance Based-Structural Equation Modeling (CB-SEM). Hasil penelitian menemukan bahwa HPWS tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap employee performance (full mediation). HPWS terbukti berperan sebagai sumber daya kerja (job resource) yang efektif meningkatkan psychological empowerment dan affective commitment, serta secara signifikan menurunkan emotional exhaustion. Temuan ini sekaligus menjawab paradoks HPWS di sektor publik yang terbukti murni berfungsi sebagai job resource yang melindungi kesehatan mental pegawai dan bukan sebagai beban kerja (job demand). Analisis jalur menunjukkan bahwa mekanisme mediasi yang paling dominan adalah melalui psychological empowerment, diikuti oleh peran mediasi emotional exhaustion yang berfungsi sebagai mekanisme penyangga stabilitas kinerja. Sebaliknya, affective commitment tidak terbukti memediasi hubungan tersebut, yang mengindikasikan bahwa adanya kepatuhan berbasis sistem dalam birokrasi, sehingga kinerja lebih didorong oleh standarisasi regulasi dan kompetensi dibandingkan ikatan emosional. Penelitian ini menyarankan pimpinan organisasi untuk memfokuskan implementasi HPWS pada penguatan partisipasi, kebermaknaan kerja, serta kejelasan tugas yang mentransformasi sistem kerja menjadi keyakinan akan kompetensi pegawai, sehingga meningkatkan kinerja dan mengoptimalkan keberhasilan reformasi birokrasi di tingkat individu.