Skripsi
Hubungan Belanja Modal Pemerintah Daerah dengan IPM di Kawasan Metropolitan Kota Lapis Kedua Indonesia Tahun 2015-2024
Pengarang:
Wildan Bagus Maulana - ; Paksi C.K. Walandouw (Pembimbing/Promotor) - ; Riatu Mariatul Qibthiyyah (Penguji) - ; Irfani Fithria Ummul Muzayanah (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menganalisis hubungan belanja modal pemerintah daerah dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada kawasan metropolitan kota lapis kedua di Indonesia. Kajian ini berangkat dari meningkatnya kebutuhan layanan dasar di pusat-pusat pertumbuhan perkotaan di luar Jakarta/Jabodetabek, sementara belanja modal pemerintah daerah menjadi salah satu instrumen fiskal untuk membentuk aset publik pada sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar. Penelitian menggunakan data panel 44 kabupaten/kota pada sembilan kawasan metropolitan kota lapis kedua selama 2015-2024, sehingga terbentuk 440 observasi kabupaten/kota-tahun. Metode yang digunakan adalah regresi data panel two-way fixed effects dengan efek tetap kabupaten/kota dan tahun, serta pembacaan hasil menggunakan Driscoll-Kraay standard errors untuk menyesuaikan karakter data panel wilayah. Hasil utama menunjukkan bahwa belanja modal pendidikan berhubungan positif dan signifikan dengan rata-rata lama sekolah (RLS). Pada model lag, belanja modal pendidikan pada lag 1, 2, dan 4 juga berhubungan positif dan signifikan dengan IPM. Belanja modal total justru berhubungan negatif dan signifikan dengan IPM pada tahun berjalan, sehingga belanja modal agregat belum dapat dibaca sebagai peningkatan IPM yang langsung. Sementara itu, belanja modal pendidikan dan kesehatan pada tahun berjalan belum signifikan terhadap IPM, dan belanja modal kesehatan belum menunjukkan hubungan yang kuat pada model lag. Hasil pelengkap mengenai pangsa belanja, lag belanja modal total, HLS, dan AHH mendukung pembacaan tersebut. Secara substantif, temuan ini menegaskan bahwa manfaat belanja modal lebih jelas ketika dibaca melalui sektor pendidikan dan indikator yang dekat dengan layanan, sedangkan dampaknya pada IPM agregat bergantung pada pembentukan aset, kesiapan operasional, dan belanja pendamping.