Skripsi
Menguji Fenomena Sticky Floors di Sektor Informal: Apakah Produktivitas Perusahaan Industri Mikro dan Kecil pada KBLI 10-33 dengan Penanggung Jawab Perempuan Tetap Rendah? Analisis Data VIMK 2021-2023
Pengarang:
Azrel Auliya Steviana - ; T.M. Zakir Sjakur Machmud (Penguji) - ; Ashintya Damayanti (Pembimbing) - ; Tjahjanto Budisatrio (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menguji keberadaan fenomena sticky floors pada perusahaan industri mikro dan kecil (KBLI 10-33) di sektor informal Indonesia dengan penanggung jawab perempuan, menggunakan data Survei Industri Mikro dan Kecil (VIMK) periode 2021-2023. Produktivitas tenaga kerja riil diestimasi sebagai rasio nilai produksi yang telah dideflasikan terhadap jumlah tenaga kerja, kemudian dianalisis melalui tiga pendekatan: regresi OLS untuk mengukur kesenjangan rata-rata, dekomposisi Oaxaca-Blinder untuk memisahkan kontribusi perbedaan karakteristik perusahaan (endowment effect) dan perbedaan pengembalian atas karakteristik tersebut (structural effect), serta dekomposisi distribusional berbasis Recentered Influence Function (RIF) pada kuantil 10, 25, 50, 75, dan 90. Hasil estimasi menunjukkan bahwa perusahaan dengan penanggung jawab perempuan secara konsisten memiliki produktivitas yang lebih rendah dibandingkan perusahaan dengan penanggung jawab laki-laki, bahkan setelah mengontrol jumlah pekerja, umur usaha, akses pembiayaan, proporsi pekerja terampil, lokasi usaha, serta efek tetap industri dan tahun. Dekomposisi Oaxaca-Blinder menunjukkan bahwa komponen struktural mendominasi kesenjangan produktivitas dibandingkan komponen endowment, mengindikasikan bahwa perempuan memperoleh pengembalian yang lebih rendah atas karakteristik usaha yang setara. Analisis RIF lebih lanjut menunjukkan bahwa kesenjangan produktivitas dan komponen struktural paling besar pada kuantil bawah distribusi dan menurun secara bertahap menuju kuantil atas, yang konsisten dengan pola sticky floors. Temuan ini mengindikasikan bahwa hambatan struktural, bukan sekadar perbedaan karakteristik usaha, menjadi faktor utama yang menahan perusahaan perempuan pada tingkat produktivitas rendah, sehingga kebijakan pemberdayaan perlu diarahkan pada pengurangan hambatan struktural tersebut, khususnya bagi perusahaan berproduktivitas rendah.