Skripsi
Does Remoteness Matter? Market Access and Structural Transformation of Villages in Indonesia
Pengarang:
Muhamad Aditya Nugraha - ; Muhammad Halley Yudhistira (Pembimbing/Promotor) - ; Irfani Fithria Ummul Muzayanah (Penguji) - ; Jossy P. Moeis (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menganalisis dampak keterpencilan geografis terhadap transformasi struktural tenaga kerja di tingkat desa di Indonesia. Menggunakan data panel mikro-spasial dari Sensus Potensi Desa (PODES), studi ini mengestimasi hubungan kausal menggunakan pendekatan Linear Probability Model dengan Two-Way Fixed Effects (LPM-TWFE). Secara agregat, hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan keterpencilan justru meningkatkan probabilitas desa didominasi oleh sektor non-pertanian. Namun, analisis sektoral mengungkap adanya distorsi dalam transisi ekonomi tersebut karena keterpencilan bertindak sebagai hambatan besar bagi industrialisasi pedesaan dengan menurunkan probabilitas aktivitas sektor manufaktur, sementara alokasi tenaga kerja dialihkan secara masif ke sektor pertambangan ekstraktif. Sementara itu, analisis heterogenitas menunjukkan pembagian spasial yang tajam antara wilayah pusat dan pinggiran. Fenomena di Pulau Jawa menunjukkan bahwa keterpencilan menjadi penghalang bagi industrialisasi manufaktur sehingga memaksa masyarakat beralih ke sektor perdagangan lokal, sedangkan di Luar Jawa keterpencilan justru cenderung mengunci desa pada pertanian subsisten atau mengarahkannya pada ketergantungan ekonomi ekstraktif yang volatil. Selain itu, dampak keterpencilan ini sangat dimoderasi oleh ukuran populasi lokal serta pangsa industri manufaktur awal di tingkat kabupaten/kota. Studi ini menyimpulkan bahwa keterpencilan geografis tidak sekadar memperlambat kecepatan transisi ekonomi, melainkan secara fundamental membelokkan arahnya hingga memicu fenomena industrial bypass, di mana suatu wilayah melewati atau kehilangan fase industrialisasi manufaktur. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan pedesaan harus meninggalkan pendekatan yang buta spasial dan secara sengaja mengintegrasikan konektivitas transportasi lintas wilayah dengan penyediaan infrastruktur produktif pelengkap seperti elektrifikasi, kualitas sinyal telekomunikasi, dan akses keuangan perbankan formal.