Skripsi
Keberdayaan Perempuan dan Partisipasi Kerja Setelah Memiliki Anak: Studi pada Tenaga Kerja Perempuan di Indonesia
Pengarang:
Masayu Paramita Nararya - ; Omas Bulan Samosir (Pembimbing/Promotor) - ; Padang Wicaksono (Penguji) - ; Suryadi (Penguji) -
Deskripsi
Rendahnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan dan besarnya
jumlah pekerja informal masih menjadi tantangan di Indonesia, terutama bagi tenaga
kerja perempuan yang memiliki anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
asosiasi keberdayaan perempuan, yang diukur melalui keterlibatan dalam pengambilan
keputusan dalam rumah tangga, terhadap partisipasi kerja dan status pekerjaan
perempuan setelah memiliki anak. Penelitian menggunakan data longitudinal Indonesian
Family Life Survey (IFLS) 2007 dan 2014 dengan sampel 928 perempuan menikah yang
bekerja dan belum memiliki anak pada tahun 2007. Metode regresi logistik biner
digunakan dengan mengontrol faktor pendidikan, status kepemilikan pasangan, jumlah
anak, lokasi tempat tinggal, kepemilikan aset rumah tangga, dan usia. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perempuan yang lebih terlibat dalam pengambilan keputusan rumah
tangga memiliki probabilitas lebih besar untuk tetap bekerja dan bekerja pada sektor
formal setelah memiliki anak. Selain itu, pendidikan tinggi dan kepemilikan aset rumah
tangga pada kelompok menengah ke atas juga berhubungan positif dengan partisipasi
kerja dan status pekerjaan. Sebaliknya, jumlah anak yang lebih banyak dan tinggal di
wilayah perdesaan menurunkan probabilitas perempuan untuk bekerja pada sektor
formal. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan keberdayaan perempuan dalam
rumah tangga melalui peningkatan keterlibatan perempuan dalam pengambilan
keputusan, yang dapat dilakukan melalui penguatan kesadaran masyarakat untuk
mendorong perubahan norma gender yang masih membatasi perempuan dalam
mengambil keputusan dan berpartisipasi di pasar tenaga kerja. Selain itu, diperlukan
kebijakan yang mendukung pendidikan perempuan, perluasan pekerjaan formal, dan
penyediaan fasilitas ramah keluarga di tempat kerja.
jumlah pekerja informal masih menjadi tantangan di Indonesia, terutama bagi tenaga
kerja perempuan yang memiliki anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
asosiasi keberdayaan perempuan, yang diukur melalui keterlibatan dalam pengambilan
keputusan dalam rumah tangga, terhadap partisipasi kerja dan status pekerjaan
perempuan setelah memiliki anak. Penelitian menggunakan data longitudinal Indonesian
Family Life Survey (IFLS) 2007 dan 2014 dengan sampel 928 perempuan menikah yang
bekerja dan belum memiliki anak pada tahun 2007. Metode regresi logistik biner
digunakan dengan mengontrol faktor pendidikan, status kepemilikan pasangan, jumlah
anak, lokasi tempat tinggal, kepemilikan aset rumah tangga, dan usia. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perempuan yang lebih terlibat dalam pengambilan keputusan rumah
tangga memiliki probabilitas lebih besar untuk tetap bekerja dan bekerja pada sektor
formal setelah memiliki anak. Selain itu, pendidikan tinggi dan kepemilikan aset rumah
tangga pada kelompok menengah ke atas juga berhubungan positif dengan partisipasi
kerja dan status pekerjaan. Sebaliknya, jumlah anak yang lebih banyak dan tinggal di
wilayah perdesaan menurunkan probabilitas perempuan untuk bekerja pada sektor
formal. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan keberdayaan perempuan dalam
rumah tangga melalui peningkatan keterlibatan perempuan dalam pengambilan
keputusan, yang dapat dilakukan melalui penguatan kesadaran masyarakat untuk
mendorong perubahan norma gender yang masih membatasi perempuan dalam
mengambil keputusan dan berpartisipasi di pasar tenaga kerja. Selain itu, diperlukan
kebijakan yang mendukung pendidikan perempuan, perluasan pekerjaan formal, dan
penyediaan fasilitas ramah keluarga di tempat kerja.