Skripsi
China as a Dominant Supplier of Production Inputs to ASEAN-5: A Product-Level Analysis of Manufacturing Value Added
Pengarang:
Ricky Valiant - ; Christina Ruth Elisabeth L. Tobing (Pembimbing/Promotor) - ; Mohamad Dian Revindo (Penguji) - ; I Made Krisna Yudhana Wisnu Gupta (Penguji) -
Deskripsi
Peran China sebagai mitra dagang terbesar ASEAN sering dibahas menggunakan data agregat, padahal cara ini menyembunyikan bagaimana jenis impor yang berbeda sebenarnya mempengaruhi output industri. Penelitian ini mendisagregasi impor China menjadi capital good dan intermediate goods menggunakan konkordansi Broad Economic Categories (BEC) Revisi 4 pada level produk HS-4, lalu menguji pengaruhnya terhadap Manufacturing Value Added (MVA) ASEAN-5 dari 2005 hingga 2024 dengan 125.136 observasi negara-produk-tahun. Estimator Poisson Pseudo Maximum Likelihood (PPML) dengan fixed effects negara dan tahun digunakan untuk menangani nilai impor nol dan heteroskedastisitas yang umum terjadi pada data perdagangan granular. Import capital goods ternyata tidak memiliki hubungan signifikan dengan MVA ( = -0.012), bertentangan dengan ekspektasi transfer teknologi dari teori pertumbuhan endogen. Sebaliknya, impor intermediate goods menunjukkan elastisitas positif dan sangat signifikan ( = 0.269, p < 0.01), artinya kenaikan 1% impor intermediate goods menaikkan MVA sekitar 30,9%. Hasil ini konsisten pada berbagai uji robustness, termasuk variabel lag, struktur fixed effects alternatif, OLS, dan spesifikasi pangsa impor China. ACFTA juga secara konsisten berasosiasi dengan MVA yang lebih tinggi di seluruh model. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan pertumbuhan manufaktur ASEAN-5 lebih didorong oleh integrasi rantai pasok berbasis perakitan dibanding teknologi yang terkandung dalam mesin impor, yang berimplikasi pada cara kawasan ini seharusnya mendekati upgrading industri.