Skripsi
Risiko Iklim dan Efisiensi Operasional Bank Syariah: Peran Moderasi Liquidity Buffer pada 13 Negara OKI
Pengarang:
Meutia Nandhita Nurltahifa - ; Tika Arundina Aswin (Pembimbing/Promotor) - ; Nur Dhani Hendranastiti (Penguji) - ; Mohamad Soleh Nurzaman (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menganalisis pengaruh risiko iklim terhadap efisiensi operasional bank syariah, sekaligus menguji apakah liquidity buffer dapat memoderasi hubungan tersebut. Isu ini penting karena pembiayaan bank syariah terikat pada aset dan aktivitas ekonomi riil, sehingga tekanan iklim di sektor riil dapat masuk ke bank melalui kualitas pembiayaan, pendapatan, dan biaya monitoring. Sementara itu, studi terdahulu sebagian besar masih berhenti pada profitabilitas dan stabilitas, belum pada efisiensi biaya. Efisiensi operasional diukur dengan Cost-to-Income Ratio (CIR), risiko iklim melalui transformasi skor ND-GAIN pada tingkat negara, dan liquidity buffer diproksikan dengan Liquid Assets to Total Assets (LQTA). Data yang digunakan adalah panel bank syariah di 13 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) periode 2010–2023, dengan estimasi utama Fixed Effect Model dan Driscoll-Kraay standard errors untuk menangani heteroskedastisitas, autokorelasi, serta cross-sectional dependence, sedangkan System GMM digunakan sebagai uji ketahanan. Pada estimasi utama, kerentanan iklim tingkat negara berkaitan positif dan signifikan dengan CIR. Artinya, bank syariah di negara dengan kerentanan iklim lebih tinggi cenderung menanggung biaya operasional yang lebih besar relatif terhadap pendapatannya. Interaksi antara risiko iklim dan LQTA bernilai negatif dan signifikan, yang menunjukkan bahwa kapasitas likuiditas internal dapat meredam tekanan tersebut. Namun efek moderasi ini tidak bertahan pada System GMM setelah persistensi CIR dikendalikan. Karena itu temuan penelitian ini dibaca sebagai asosiasi empiris, bukan klaim kausal.