Skripsi
Pengaruh Imported Input Terhadap Produktivitas dan Ekspor pada Industri Manufaktur High-Tech dan Middle-High-Tech di Indonesia dengan Research and Development sebagai Variabel Moderasi
Pengarang:
Vanesa Arneta - ; Ashintya Damayati (Pembimbing/Promotor) - ; T.M. Zakir Sjakur Machmud (Penguji) - ; Tjahjanto Budisatrio (Penguji) -
Deskripsi
Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor (imported input), tercermin dari 72,61% nilai impor 2024 yang berupa bahan baku/penolong. Ketergantungan ini menimbulkan dilema trade-off antara kerentanan terhadap guncangan rantai pasok global dan manfaat produktivitas serta daya saing ekspor yang ditawarkan input impor. Isu ini menjadi semakin relevan di tengah dinamika geopolitik global, terutama ketegangan dagang Amerika Serikat dan China serta disrupsi rantai pasok akibat pandemi COVID-19, yang mendorong perusahaan multinasional menerapkan strategi diversifikasi lokasi produksi atau China+1. Pergeseran ini membawa implikasi langsung terhadap pola penggunaan imported input di negara tujuan relokasi seperti Indonesia, karena perusahaan yang merelokasi produksi turut membawa jaringan pemasok dari negara asal. Literatur terdahulu menunjukkan hasil yang tidak konsisten mengenai pengaruh imported input terhadap produktivitas dan ekspor, serta peran kegiatan riset dan pengembangan (R&D) sebagai faktor yang memperkuat kemampuan perusahaan menyerap teknologi asing (absorptive capacity). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh imported input terhadap Total Factor Productivity (TFP) dan ekspor pada industri manufaktur berteknologi high dan middle-high di Indonesia, dengan R&D sebagai variabel moderasi.
Penelitian menggunakan data Survei Industri Besar dan Sedang (IBS) periode 2018–2021 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik, mencakup 23.436 observasi dari 7.319 perusahaan unik. TFP diestimasi menggunakan metode Ackerberg-Caves-Frazer (ACF) berdasarkan fungsi produksi Cobb-Douglas. Pengaruh imported input terhadap TFP diuji menggunakan regresi Fixed Effects, sementara pengaruhnya terhadap probabilitas ekspor diuji menggunakan Random Effects Probit, dengan kontrol untuk efek tahun dan dampak pandemi COVID-19.
Hasil estimasi menunjukkan bahwa penggunaan imported input berpengaruh positif dan signifikan terhadap TFP perusahaan (koefisien = 0,0040; p < 0,01), mengonfirmasi Hipotesis 1. Imported input juga terbukti meningkatkan probabilitas perusahaan melakukan ekspor secara positif dan signifikan (koefisien = 0,0116; p < 0,01), mengonfirmasi Hipotesis 2. Namun, R&D sebagai variabel moderasi tidak terbukti memperkuat efek imported input terhadap TFP maupun ekspor pada tahun yang sama; koefisien interaksi justru negatif dan signifikan pada kedua model, sehingga Hipotesis 3 dan Hipotesis 4 ditolak. Analisis tambahan dengan efek time-lag satu tahun menunjukkan bahwa interaksi R&D dengan imported input berubah menjadi positif dan signifikan terhadap TFP, mengindikasikan bahwa manfaat moderasi R&D bersifat dinamis dan baru terealisasi setelah perusahaan membangun kapabilitas absorpsi dari investasi R&D sebelumnya. Analisis perbandingan sektor menunjukkan efek negatif moderasi R&D pada tahun yang sama terutama didorong oleh industri high tech, sementara pada industri middle-high tech efek interaksi tersebut tidak signifikan. Analisis spillover geografis turut menunjukkan bahwa eksternalitas positif penggunaan imported input antarperusahaan dalam provinsi yang sama berpengaruh signifikan terhadap TFP. Seluruh temuan utama konsisten melalui uji robustness check menggunakan winsorize pada batas 1%–99%.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa imported input merupakan saluran penting peningkatan produktivitas dan ekspor pada industri manufaktur berteknologi menengah-tinggi di Indonesia, sejalan dengan mekanisme learning-by-importing. Namun, manfaat R&D dalam memperkuat efek tersebut tidak bersifat instan, melainkan membutuhkan jeda waktu untuk terealisasi, konsisten dengan kerangka dynamic absorptive capacity. Di tengah pergeseran rantai pasok global akibat strategi China+1, temuan ini relevan sebagai dasar kebijakan agar Indonesia dapat memanfaatkan momentum relokasi investasi manufaktur global, dengan mendorong akses input impor berkualitas yang diiringi insentif R&D jangka panjang agar manfaat moderasinya dapat optimal.
Penelitian menggunakan data Survei Industri Besar dan Sedang (IBS) periode 2018–2021 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik, mencakup 23.436 observasi dari 7.319 perusahaan unik. TFP diestimasi menggunakan metode Ackerberg-Caves-Frazer (ACF) berdasarkan fungsi produksi Cobb-Douglas. Pengaruh imported input terhadap TFP diuji menggunakan regresi Fixed Effects, sementara pengaruhnya terhadap probabilitas ekspor diuji menggunakan Random Effects Probit, dengan kontrol untuk efek tahun dan dampak pandemi COVID-19.
Hasil estimasi menunjukkan bahwa penggunaan imported input berpengaruh positif dan signifikan terhadap TFP perusahaan (koefisien = 0,0040; p < 0,01), mengonfirmasi Hipotesis 1. Imported input juga terbukti meningkatkan probabilitas perusahaan melakukan ekspor secara positif dan signifikan (koefisien = 0,0116; p < 0,01), mengonfirmasi Hipotesis 2. Namun, R&D sebagai variabel moderasi tidak terbukti memperkuat efek imported input terhadap TFP maupun ekspor pada tahun yang sama; koefisien interaksi justru negatif dan signifikan pada kedua model, sehingga Hipotesis 3 dan Hipotesis 4 ditolak. Analisis tambahan dengan efek time-lag satu tahun menunjukkan bahwa interaksi R&D dengan imported input berubah menjadi positif dan signifikan terhadap TFP, mengindikasikan bahwa manfaat moderasi R&D bersifat dinamis dan baru terealisasi setelah perusahaan membangun kapabilitas absorpsi dari investasi R&D sebelumnya. Analisis perbandingan sektor menunjukkan efek negatif moderasi R&D pada tahun yang sama terutama didorong oleh industri high tech, sementara pada industri middle-high tech efek interaksi tersebut tidak signifikan. Analisis spillover geografis turut menunjukkan bahwa eksternalitas positif penggunaan imported input antarperusahaan dalam provinsi yang sama berpengaruh signifikan terhadap TFP. Seluruh temuan utama konsisten melalui uji robustness check menggunakan winsorize pada batas 1%–99%.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa imported input merupakan saluran penting peningkatan produktivitas dan ekspor pada industri manufaktur berteknologi menengah-tinggi di Indonesia, sejalan dengan mekanisme learning-by-importing. Namun, manfaat R&D dalam memperkuat efek tersebut tidak bersifat instan, melainkan membutuhkan jeda waktu untuk terealisasi, konsisten dengan kerangka dynamic absorptive capacity. Di tengah pergeseran rantai pasok global akibat strategi China+1, temuan ini relevan sebagai dasar kebijakan agar Indonesia dapat memanfaatkan momentum relokasi investasi manufaktur global, dengan mendorong akses input impor berkualitas yang diiringi insentif R&D jangka panjang agar manfaat moderasinya dapat optimal.