Skripsi
Pengaruh Intensitas Emisi Karbon dan Kinerja ESG terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Non-Keuangan
Pengarang:
Ahmad Agustiawan Junior - ; Dwi Nastiti Danarsari (Pembimbing/Promotor) - ; Mona Ridho Sidjabat (Penguji) - ; Ratna Juwita (Penguji) -
Deskripsi
Meningkatnya tekanan akibat perubahan iklim mendorong perusahaan untuk mengintegrasikan strategi keberlanjutan ke dalam aktivitas bisnisnya. Meskipun demikian, bukti empiris mengenai pengaruh intensitas emisi karbon dan implementasi ESG terhadap kinerja keuangan masih menunjukkan hasil yang beragam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh linear dan nonlinier dari intensitas emisi karbon serta ESG dan pilarnya terhadap kinerja keuangan serta membandingkan perusahaan pada developed, emerging, dan frontier markets. Penelitian ini menggunakan data panel yang mencakup 7.135 perusahaan non-keuangan di 58 negara. Variabel independen diukur menggunakan intensitas emisi karbon dan ESG Score yang dilag satu tahun, sedangkan kinerja keuangan diukur menggunakan (ROA), (ROE), dan Tobin’s Q. Analisis dilakukan menggunakan regresi fixed effects dengan clustered standard errors serta dilakukan uji robustnes menggunakan two-stage least squares (2SLS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas emisi karbon tidak berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pada keseluruhan sampel maupun seluruh klasifikasi pasar. Hubungan kurvilinier antara intensitas emisi karbon dengan kinerja keuangan juga tidak ditemukan pada keseluruhan sampel, developed, maupun emerging markets, tetapi hanya teridentifikasi pada frontier markets untuk ROA dan ROE. Sedangkan, ESG Score berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA, ROE, dan Tobin’s Q. Hubungan nonlinier berbentuk U hanya ditemukan pada Tobin’s Q dengan titik balik pada ESG Score sebesar 69,01, yang mengindikasikan bahwa pasar mulai memberikan apresiasi terhadap implementasi ESG setelah perusahaan mencapai tingkat ESG tertentu. Analisis pada tingkat pilar menunjukkan bahwa dimensi Environmental, Social, dan Governance memiliki pola hubungan yang berbeda terhadap kinerja keuangan, sehingga penggunaan ESG Score secara keseluruhan berpotensi menyembunyikan heterogenitas pengaruh masing-masing pilar.
Penelitian ini memberikan implikasi bagi perusahaan, regulator, investor, dan akademisi dalam merumuskan strategi keberlanjutan serta memahami konsekuensi finansial dari pengelolaan emisi karbon dan implementasi ESG pada berbagai tingkat perkembangan pasar. Keterbatasan penelitian meliputi potensi selection bias akibat penggunaan satu penyedia data ESG, kemungkinan reverse causality yang belum sepenuhnya teratasi, serta belum terakomodasinya variasi karakteristik industri dan faktor institusional antarnegara
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas emisi karbon tidak berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pada keseluruhan sampel maupun seluruh klasifikasi pasar. Hubungan kurvilinier antara intensitas emisi karbon dengan kinerja keuangan juga tidak ditemukan pada keseluruhan sampel, developed, maupun emerging markets, tetapi hanya teridentifikasi pada frontier markets untuk ROA dan ROE. Sedangkan, ESG Score berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA, ROE, dan Tobin’s Q. Hubungan nonlinier berbentuk U hanya ditemukan pada Tobin’s Q dengan titik balik pada ESG Score sebesar 69,01, yang mengindikasikan bahwa pasar mulai memberikan apresiasi terhadap implementasi ESG setelah perusahaan mencapai tingkat ESG tertentu. Analisis pada tingkat pilar menunjukkan bahwa dimensi Environmental, Social, dan Governance memiliki pola hubungan yang berbeda terhadap kinerja keuangan, sehingga penggunaan ESG Score secara keseluruhan berpotensi menyembunyikan heterogenitas pengaruh masing-masing pilar.
Penelitian ini memberikan implikasi bagi perusahaan, regulator, investor, dan akademisi dalam merumuskan strategi keberlanjutan serta memahami konsekuensi finansial dari pengelolaan emisi karbon dan implementasi ESG pada berbagai tingkat perkembangan pasar. Keterbatasan penelitian meliputi potensi selection bias akibat penggunaan satu penyedia data ESG, kemungkinan reverse causality yang belum sepenuhnya teratasi, serta belum terakomodasinya variasi karakteristik industri dan faktor institusional antarnegara