Skripsi
Evaluasi Kelayakan Ekonomi dan Analisis Grid Parity pada Program Konversi PLTD ke Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia
Pengarang:
Raditya Kevin Meiriyansyah - ; Diah Widyawati (Pembimbing/Promotor) - ; Widyono Soetjipto (Penguji) - ; Sita Wardhani (Penguji) -
Deskripsi
Program Dedieselisasi Tahap I yang diinisasi oleh PT PLN (Persero) menargetkan konversi 94 unit pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di daerah off-grid dengan kapasitas total sekitar 116.569 kW yang tersebar di 20 provinsi menjadi pembangkit energi baru terbarukan (EBT). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kelayakan ekonomi program konversi tersebut sekaligus mengidentifikasi teknologi pengganti berbiaya terendah (least-cost) untuk setiap unit pembangkit. Analisis ini dirancang sebagai studi pre-feasibility dengan data sekunder dari katalog Danish Energy Agency (DEA, 2024), PT PLN, dan RUPTL 2025-2034. Lima sumber EBT dievaluasi, yaitu tenaga surya, bayu, biomassa, air, dan panas bumi, dengan mengklasifikasikan pembangkit ke dalam tiga skala kapasitas (mikro, kecil, dan besar) untuk menangkap efek economies of scale. Biaya penyediaan listrik dihitung menggunakan metode anuitas melalui indikator Levelized Cost of Electricty (LCOE), Levelized Cost of Storage (LCOS) untuk sistem penyimpanan baterai (BESS), serta System LCOE bagi sumber intermiten (Variable Renewable Energy/VRE), dengan Weighted Average Cost of Capital (WACC) sebesar 10%. Kelayakan ditentukan melalui uji grid parity, yakni perbandingan biaya EBT terhadap baseline LCOE dieseleksisting pada masing-masing unit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 93 dari 94 unit pembangkit mencapai grid parity, sehingga konversi secara ekonomi layak dilakukan dihampir seluruh unit. Sebanyak 62 unit (66,0%) paling sesuai digantikan teknologi sumber non-intermiten (dispatchable) dan 31 unit (33,0%) oleh sumber intermiten. Distribusi teknologi least-cost terdiri atas biomassa (48 unit), surya PV yang dipadukan BESS (31 unit), dan hidro skala kecil (14 unit), sementara satu unit (Ambeua) direkomendasikan tetap dipertahankan (retensi) karena belum ekonomis. Temuan ini memberikan dasar penetapan prioritas dedieselisasi dan rekomendasi kebijakan transisi energi yang efisien secara biaya.