Skripsi
Hubungan antara Penerbitan Green Sukuk dan Emisi CO?: Peran Moderasi Kualitas Institusi
Pengarang:
Nadya Rachma Muhson - ; Permata Wulandari (Pembimbing/Promotor) - ; Kenny Devita Indraswari (Pembimbing/Promotor) - ; Karina Wulandari (Penguji) - ; Witri Indriyani (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penerbitan green sukuk dan emisi CO2 di negara penerbit, serta menguji peran kualitas institusi sebagai variabel moderasi dalam hubungan tersebut. Penelitian menggunakan data panel dari sembilan negara penerbit green sukuk (Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Afrika Selatan, Bangladesh, dan Turki) selama periode 2017-2024. Penerbitan green sukuk diukur menggunakan rasio nilai penerbitan terhadap GDP pada masing-masing negara dan tahun pengamatan, sedangkan kualitas institusi dibentuk melalui Principal Component Analysis (PCA) atas enam dimensi Worldwide Governance Indicators (WGI), yaitu Voice and Accountability, Political Stability, Government Effectiveness, Regulatory Quality, Rule of Law, dan Control of Corruption. Estimasi dilakukan menggunakan model Fixed Effects dengan Driscoll-Kraay standard errors untuk mengatasi heteroskedastisitas dan autokorelasi. Hasil estimasi menunjukkan bahwa penerbitan green sukuk tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan emisi CO2. Namun, kualitas institusi terbukti memoderasi hubungan tersebut sehingga hubungan negatif antara penerbitan green sukuk dan emisi CO2 menjadi lebih kuat pada negara dengan kualitas institusi yang lebih baik. Analisis lanjutan dengan menguraikan indeks komposit ke dalam enam dimensi WGI menunjukkan bahwa Government Effectiveness, Regulatory Quality, Control of Corruption, dan Rule of Law berperan signifikan dalam memperkuat hubungan negatif tersebut, sedangkan Voice and Accountability tidak menunjukkan peran moderasi yang signifikan. Uji robustness menggunakan emisi gas rumah kaca (GHG) sebagai variabel dependen menghasilkan temuan yang kurang konsisten, sementara pengujian menggunakan emisi CO2 satu periode ke depan (lead CO2) menunjukkan hubungan negatif yang lebih kuat dan signifikan, yang mengindikasikan adanya jeda waktu dalam realisasi manfaat lingkungan dari proyek yang dibiayai melalui green sukuk. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas green sukuk sebagai instrumen pembiayaan hijau berbasis syariah dalam mendukung mitigasi perubahan iklim tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang dihimpun, tetapi juga oleh kapasitas kelembagaan negara penerbit.