Skripsi
Apakah Tingginya Utang Publik Meningkatkan Biaya Output untuk Memerangi Inflasi? Studi Kasus Negara Berpendapatan Menengah Periode 1990-2024
Pengarang:
Dani Huwaiza Busra - ; Sugiharso Safuan (Pembimbing/Promotor) - ; Risna Triandhari (Penguji) - ; Titissari (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menganalisis apakah tingkat utang publik yang lebih tinggi meningkatkan biaya output untuk menurunkan inflasi pada negara berpendapatan menengah. Biaya output diukur dengan sacrifice ratio, yaitu akumulasi kehilangan output riil yang diperlukan untuk menurunkan inflasi satu poin persentase selama episode disinflasi. Dengan menggunakan 123 episode disinflasi dari 60 middle-income countries periode 1990-2024, penelitian ini mengukur sacrifice ratio menggunakan pendekatan log-linear Ball dan mengestimasi pengaruh debt-to-GDP ratio, central bank independence, openness to trade, serta speed of disinflation. Setelah mengecualikan episode yang terkontaminasi shock ekstrem seperti COVID-19, konflik Libya, dan bencana tsunami Maldives, clean sample terdiri atas 104 episode. Hasil OLS dengan clustered standard errors menunjukkan bahwa debt-to-GDP berpengaruh negatif dan signifikan terhadap sacrifice ratio. Temuan ini mengindikasikan bahwa pada negara berpendapatan menengah, utang yang lebih tinggi tidak selalu meningkatkan biaya disinflasi, terutama bila utang mendukung kapasitas produksi. Openness dan central bank independence memperkuat hubungan negatif tersebut, sedangkan speed of disinflation tidak signifikan. Implikasi utama penelitian adalah pentingnya penggunaan utang produktif, kredibilitas bank sentral, dan keterbukaan ekonomi.