Disertasi
Routine-Biased Technological Change in Indonesia's Dual Economy: Inequality and Workers' Reallocation
Pengarang:
Wulan Isfah Jamil - ; Bambang P.S. Brodjonegoro (Pembimbing/Promotor) - ; Prani Sastiono (Penguji) - ; Chaikal Nuryakin (Penguji) - ; Diah Widyawati (CoPromotor) - ; I Dewa Gede Karma Wisana (Penguji) - ; Devanto Shasta Pratomo (Penguji) - ; Rizki Nauli Siregar (Penguji) - ; Maria Goreti Arie Damayanti (CoPromotor) -
Deskripsi
Perubahan teknologi yang bias terhadap tugas rutin (Routine-Biased Technological Change atau RBTC) telah menjadi salah satu kekuatan utama yang membentuk kembali pasar kerja di berbagai negara. Meskipun dampaknya telah banyak dikaji di negara maju, pemahaman mengenai bagaimana RBTC beroperasi di negara berkembang dengan struktur pasar kerja ganda dan sektor informal yang besar masih terbatas. Dalam konteks tersebut, tekanan teknologi berporensi berinteraksi dengan segmentasi pasar kerja serta ketimpangan yang telah ada sebelumnya, sehingga menghisalkan pola penyesuaian yang berbeda dari yang diamati di negara maju.
Disertasi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana RBTC berkaitan dengan ketimpangan pasar kerja dan realokasi pekerja di Indonesia selama periode 2001−2019. Dengan menggunakan data cross-section berulang dari Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) serta ukuran tugas pekerja berbasis O*NET, penelitian ini terdiri dari dua esai empiris yang mencakup berbagai fase kemajuan teknologi dan kondisi makroekonomi.
Esai pertama meneliti evolusi kesenjangan upah gender di dalam pekerjaan formal berupah. Hasil estimasi stacked first-difference menunjukkan bahwa tekanan terhadap pekerjaan rutin berlangsung secara berurutan antar periode dan bersifat asimetris menurut gender. Meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama mengalami tekanan substitusi tugas rutin, perempuan menunjukkan pola upgrading yang lebih jelas, terutama selama fase automatino-capital deepening (2005−2010), melalui realokasi dari pekerjaan rutin manual ke pekerjaan non-rutin interpersonal. Namun, dekomposisi shift-share dinamis mengungkapkan adanya quantity-price disconnect yang persisten. Realokasi pekerjaan yang dilakukan perempuan berkontribusi menyempitkan kesenjangan upah gender, tetap efek tersebut semakin terimbangi oleh pertumbuhan upah yang tidak menguntungkan di dalam kelompok tugas. Akibatnya, kontribusi bersih penyesuaian berbasis tugas berubah dari menyempit menjadi melebar selama fase akselerasi digital (2015−2019).
Sementara itu, Esai kedua memperluas fokus analisis ke luar batas sektor formal dengan mengkaji bagaimana paparan tugas rutin memengaruhi alokasi pekerja lintas kategori formal dan informal. Dengan mengadaptasi kerangka tugas ekonomi ganda dari Gomez (2021), esai ini menggunakan model multinomial probit spesifik periode. Temuan menunjukkan bahwa pekerja di pekerjaan dengan intensitas tugas rutin tinggi tetap sangat terkait dengan pekerjaan formal barang, meskipun keterkaitan ini melemah selama periode otomatisasi yang lebih intensif. Pekerjaan kasual muncul sebagai saluran penyesuaian utama di luar pekerjaan formal barang. Namun, akses terhadap penyangga ini sangat tidak merata. Perempuan dan pekerja usia lanjut menghadapi kerugian ganda, yaitu keterikatan yang lebih lemah dengan pekerjaan formal barang sekaligus akses yang lebih terbatas ke pekerjaan kasual
Secara keseluruhan, kedua esai menunjukkan bahwa RBTC di Indonesia menghasilkan dampak pasar kerja yang tersegmentasi dan tidak merata. Efeknya dibentuk oleh interaksi antara tekanan teknologi, struktur pasar kerja ganda, heterogenitas demografis, dan kondisi makroekonomi. Temuan ini tidak dapat diinterpretasikan sebagai efek kausal langsung dari perubahan teknologi. Meskipun demikian, hasil penelitian ini memberikan suggestive evidence mengenai bagaimana RBTC mungkin bekerja dalam konteks negara berkembang yang memiliki pasar kerja ganda dan heterogen.
Disertasi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana RBTC berkaitan dengan ketimpangan pasar kerja dan realokasi pekerja di Indonesia selama periode 2001−2019. Dengan menggunakan data cross-section berulang dari Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) serta ukuran tugas pekerja berbasis O*NET, penelitian ini terdiri dari dua esai empiris yang mencakup berbagai fase kemajuan teknologi dan kondisi makroekonomi.
Esai pertama meneliti evolusi kesenjangan upah gender di dalam pekerjaan formal berupah. Hasil estimasi stacked first-difference menunjukkan bahwa tekanan terhadap pekerjaan rutin berlangsung secara berurutan antar periode dan bersifat asimetris menurut gender. Meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama mengalami tekanan substitusi tugas rutin, perempuan menunjukkan pola upgrading yang lebih jelas, terutama selama fase automatino-capital deepening (2005−2010), melalui realokasi dari pekerjaan rutin manual ke pekerjaan non-rutin interpersonal. Namun, dekomposisi shift-share dinamis mengungkapkan adanya quantity-price disconnect yang persisten. Realokasi pekerjaan yang dilakukan perempuan berkontribusi menyempitkan kesenjangan upah gender, tetap efek tersebut semakin terimbangi oleh pertumbuhan upah yang tidak menguntungkan di dalam kelompok tugas. Akibatnya, kontribusi bersih penyesuaian berbasis tugas berubah dari menyempit menjadi melebar selama fase akselerasi digital (2015−2019).
Sementara itu, Esai kedua memperluas fokus analisis ke luar batas sektor formal dengan mengkaji bagaimana paparan tugas rutin memengaruhi alokasi pekerja lintas kategori formal dan informal. Dengan mengadaptasi kerangka tugas ekonomi ganda dari Gomez (2021), esai ini menggunakan model multinomial probit spesifik periode. Temuan menunjukkan bahwa pekerja di pekerjaan dengan intensitas tugas rutin tinggi tetap sangat terkait dengan pekerjaan formal barang, meskipun keterkaitan ini melemah selama periode otomatisasi yang lebih intensif. Pekerjaan kasual muncul sebagai saluran penyesuaian utama di luar pekerjaan formal barang. Namun, akses terhadap penyangga ini sangat tidak merata. Perempuan dan pekerja usia lanjut menghadapi kerugian ganda, yaitu keterikatan yang lebih lemah dengan pekerjaan formal barang sekaligus akses yang lebih terbatas ke pekerjaan kasual
Secara keseluruhan, kedua esai menunjukkan bahwa RBTC di Indonesia menghasilkan dampak pasar kerja yang tersegmentasi dan tidak merata. Efeknya dibentuk oleh interaksi antara tekanan teknologi, struktur pasar kerja ganda, heterogenitas demografis, dan kondisi makroekonomi. Temuan ini tidak dapat diinterpretasikan sebagai efek kausal langsung dari perubahan teknologi. Meskipun demikian, hasil penelitian ini memberikan suggestive evidence mengenai bagaimana RBTC mungkin bekerja dalam konteks negara berkembang yang memiliki pasar kerja ganda dan heterogen.