Skripsi
Digital Literation and Organic Fertilizer Adoption in Rural Java
Pengarang:
Sultan Arin Faridsyah - ; Diah Widyawati (Pembimbing/Promotor) - ; Vid Adrison (Penguji) - ; Widyono Soetjipto (Penguji) -
Deskripsi
Sektor pertanian Indonesia menghadapi tekanan struktural berupa penurunan produktivitas akibat masifnya konversi lahan pertanian dan kualitas tanah yang semakin menurun karena pemakaian pupuk kimia. Untuk meningkatkan produktivitas lahan dan keberlanjutannya, pupuk organik menjadi alternatif dan didukung dengan adanya teknologi dan informasi pertanian yang semakin berkembang mengarah pada praktik pertanian presisi. Implementasi praktik pertanian presisi harus memenuhi syarat perlu yakni petani mempunyai literasi digital untuk bisa mengadopsi praktek tersebut. Untuk memahami dinamika tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris keterkaitan antara literasi digital dengan adopsi pupuk organik sebagai identifikasi awal dari pemenuhan syarat perlu tersebut. Studi ini dilakukan di tingkat desa menggunakan data Potensi Desa (PODES) 2024 yang mencakup 25.266 desa dan kelurahan di Pulau Jawa. Digital literasi diukur dengan lima dimensi infrastruktur telekomunikasi yakni, —kepemilikan telepon seluler, jumlah menara Base Transceiver Station (BTS), jumlah operator seluler, kualitas sinyal, dan jenis sinyal. Dengan mengaplikasikan Binary Probit Model, penelitian menunjukkan bahwa dari lima dimensi tersebut, hanya jumlah BTS yang menunjukan hubungan yang signifikan. Apabila jumlah BTS bertambah satu unit di setiap desa maka probabilitas penduduk desa mengadopsi pupuk organik rata-rata naik 6%, sementara jika jumlah operator yang masuk ke desa bertambah satu, secara ratarata akan meningkatkan probabilitas adopsi pupuk organiak sebesar 3,2%. Regresi dengan menggunakan subsample untuk mengidentifikasi heteregenitas menunjukan adanya perbedaan hasil antar provinsi. Asosiasi BTS dengan adopsi pupuk organik terlihat lebih kuat di desa dengan dominasi sektor pertanian khususnya di Jawa Timur. Studi ini membawa implikasi kebijakan bagi pemerintah untuk mendorong pembangunan BTS dan membuat pasar telekomunikasi lebih kompetitif dengan mempermudah masuknya operator untuk masuk ke desa-desa agar literasi digital dapat meningkat yang nantinya akan mendorong penggunakan pupuk organik sebagai bentuk praktek pertanian berkelanjutan.