Skripsi
Paternity Leave Duration and Female Labor Supply: Evidence from OECD Countries
Pengarang:
Khansa Rasya Ramadhania Raharjo - ; Diahhadi Setyonaluri (Pembimbing/Promotor) - ; Turro S. Wongkaren (Penguji) - ; Paksi C.K. Walandouw (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menganalisis hubungan antara durasi paternity leave, Full-Rate Equivalent (FRE) dan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan (FLFP) menggunakan data panel 37 negara OECD periode 2015-2024, dengan temuan utama tidak ditemukan hubungan signifikan antara keduanya terhadap FLFP setelah karakteristik antarnegara dikontrol. Secara konseptual, cuti ayah dilihat sebagai salah satu instrumen kebijakan keluarga yang dapat memengaruhi pembagian pengasuhan yang lebih seimbang, yang selama ini lebih banyak ditanggung oleh perempuan, sehingga perempuan memiliki peran yang lebih besar untuk tetap aktif di pasar kerja. Estimasi dilakukan melalui beberapa tahap, analisis dimulai dengan menggunakan Pooled OLS sebagai baseline, Fixed Effects sebagai model utama yang didukung oleh Uji Hausman, dan Two-Way Fixed Effects sebagai uji robustness, dengan total 370 observasi. Penelitian ini menggunakan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan (FLFP) sebagai variabel dependen. Sedangkan variabel independen utama terdiri dari durasi paternity leave, paternity leave kuadrat, dan Full-Rate Equivalent (FRE). Dengan kontrol berupa maternity leave, GDP per kapita, tingkat fertilitas, pendidikan perempuan, serta tingkat pengangguran. Temuan utama menunjukkan bahwa paternity leave dan FRE tidak signifikan terhadap FLFP setelah karakteristik negara dikontrol. Hal ini mengindikasikan bahwa hasil Pooled OLS kemungkinan dipengaruhi faktor negara yang tidak teramati. Sebaliknya, maternity leave menunjukkan hubungan negatif terhadap FLFP. Sementara, uji nonlinier menemukan indikasi lemah pola U-shape dengan titik balik sekitar 1,44 minggu pada tingkat signifikansi 10%. Temuan ini menegaskan bahwa paternity leave formal belum cukup meningkatkan FLFP. Efektivitasnya harus didukung oleh penggunaan aktual, dukungan norma sosial, dan desain kebijakan yang mendorong keterlibatan ayah.