Disertasi
Mental health and social exclusion in Indonesia: A public health perspective
Pengarang:
Gerardia Gadisvania Sibbald - ; Aris Ananta (Pembimbing/Promotor) - ; Diah Widyawati (CoPromotor) - ; Teguh Dartanto (CoPromotor) - ; Turro S. Wongkaren (Penguji) - ; Djoni Hartono (Penguji) - ; Muhammad Halley Yudhistira (Penguji) - ; Jossy P. Moeis (Penguji) - ; Soewarta Koesen (Penguji) -
Deskripsi
Latar belakang:
Kesehatan mental dan eksklusi sosial semakin diakui sebagai tantangan kesehatan masyarakat yang saling terkait. Dampak pasca COVID-19 menegaskan perlunya mengintegrasikan kesejahteraan psikologis ke dalam agenda pembangunan nasional dan inklusi sosial. Bukti empiris serta analisis kausal dari Asia Tenggara masih terbatas.
Desain dan metode:
Studi ini menggabungkan tren deskriptif longitudinal dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) dengan regresi probit instrumental variable menggunakan data penampang, dan mengkaji hubungan klausal antara kesehatan mental dan dua dimensi utama eksklusi sosial: status pekerjaan dan partisipasi komunitas. Untuk mengatasi potensi endogenitas dan hubungan dua arah, “riwayat kesehatan mental dalam keluarga” digunakan sebagai instrumental variable, yang secara teoretis layak dan secara statistik valid sebagai proksi variasi eksogen dalam kesehatan mental individu.
Hasil:
Temuan deskriptif menunjukkan bahwa kesehatan mental yang lebih buruk berkaitan dengan tingkat pekerjaan dan partisipasi komunitas yang lebih rendah. Hasil instrumental variable menunjukkan bahwa peningkatan satu poin pada indeks kesehatan mental (menunjukkan kesehatan mental yang lebih buruk) menurunkan probabilitas bekerja sebesar 25,3% dan menurunkan probabilitas berpartisipasi dalam kehidupan komunitas sebesar 26,8%. Hasil ini mengonfirmasi adanya hubungan negatif yang kuat antara kesehatan mental dan inklusi sosial.
Kesimpulan:
Studi ini memberikan kontribusi baru dengan mengidentifikasi efek kausal kesehatan mental terhadap eksklusi sosial di negara berpendapatan menengah ke bawah (LMIC). Berlandaskan capability approach, temuan ini menggambarkan bagaimana kesehatan mental yang terganggu membatasi kebebasan nyata (real freedoms) dan memperkuat eksklusi. IFLS memberikan bukti longitudinal yang langka dan representatif secara nasional dari Indonesia.
Implikasi kesehatan masyarakat:
Temuan ini mendukung perlunya strategi terpadu untuk meningkatkan kesehatan mental dan memperkuat inklusi sosial—kritis bagi LMIC dalam menghadapi pemulihan pascapandemi dan transformasi sosial yang sedang berlangsung.
Kesehatan mental dan eksklusi sosial semakin diakui sebagai tantangan kesehatan masyarakat yang saling terkait. Dampak pasca COVID-19 menegaskan perlunya mengintegrasikan kesejahteraan psikologis ke dalam agenda pembangunan nasional dan inklusi sosial. Bukti empiris serta analisis kausal dari Asia Tenggara masih terbatas.
Desain dan metode:
Studi ini menggabungkan tren deskriptif longitudinal dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) dengan regresi probit instrumental variable menggunakan data penampang, dan mengkaji hubungan klausal antara kesehatan mental dan dua dimensi utama eksklusi sosial: status pekerjaan dan partisipasi komunitas. Untuk mengatasi potensi endogenitas dan hubungan dua arah, “riwayat kesehatan mental dalam keluarga” digunakan sebagai instrumental variable, yang secara teoretis layak dan secara statistik valid sebagai proksi variasi eksogen dalam kesehatan mental individu.
Hasil:
Temuan deskriptif menunjukkan bahwa kesehatan mental yang lebih buruk berkaitan dengan tingkat pekerjaan dan partisipasi komunitas yang lebih rendah. Hasil instrumental variable menunjukkan bahwa peningkatan satu poin pada indeks kesehatan mental (menunjukkan kesehatan mental yang lebih buruk) menurunkan probabilitas bekerja sebesar 25,3% dan menurunkan probabilitas berpartisipasi dalam kehidupan komunitas sebesar 26,8%. Hasil ini mengonfirmasi adanya hubungan negatif yang kuat antara kesehatan mental dan inklusi sosial.
Kesimpulan:
Studi ini memberikan kontribusi baru dengan mengidentifikasi efek kausal kesehatan mental terhadap eksklusi sosial di negara berpendapatan menengah ke bawah (LMIC). Berlandaskan capability approach, temuan ini menggambarkan bagaimana kesehatan mental yang terganggu membatasi kebebasan nyata (real freedoms) dan memperkuat eksklusi. IFLS memberikan bukti longitudinal yang langka dan representatif secara nasional dari Indonesia.
Implikasi kesehatan masyarakat:
Temuan ini mendukung perlunya strategi terpadu untuk meningkatkan kesehatan mental dan memperkuat inklusi sosial—kritis bagi LMIC dalam menghadapi pemulihan pascapandemi dan transformasi sosial yang sedang berlangsung.