Skripsi
Peran Pet Attitude Scale (PAS) Dalam Memediasi Pengaruh Religiositas Muslim Terhadap Permintaan Rumah Tangga Pada Produk dan Layanan Hewan Peliharaan
Pengarang:
Yudha Anggun Hairani - ; Banu Muhammad (Pembimbing/Promotor) - ; Ashintya Damayati (Penguji) - ; Ronald Rulindo (Pembimbing/Promotor) - ; Kenny Devita Indraswari (Penguji) -
Deskripsi
Industri hewan peliharaan di Indonesia berkembang pesat, tetapi kajian mengenai faktor pembentuk permintaan rumah tangga Muslim terhadap produk dan layanannya masih terbatas. Religiositas dan sikap terhadap hewan peliharaan umumnya diteliti secara terpisah, sehingga mekanisme yang menghubungkan nilai keagamaan dengan keputusan konsumsi belum banyak dijelaskan. Penelitian ini menguji peran Pet Attitude Scale (PAS) dalam memediasi pengaruh religiositas Muslim terhadap permintaan rumah tangga pada produk dan layanan hewan peliharaan. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan data primer dari rumah tangga Muslim pemilik hewan peliharaan di Jabodetabek yang dipilih melalui purposive sampling, kemudian dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan religiositas Muslim berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan rumah tangga sekaligus terhadap PAS, dan menjadi prediktor terkuat dalam model. Sebaliknya, PAS tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan dan tidak terbukti memediasi hubungan antara religiositas dan permintaan. Pola yang terbentuk adalah direct-only effect, yaitu religiositas memengaruhi permintaan secara langsung tanpa melalui pembentukan sikap, sehingga hierarki nilai-sikap-perilaku tidak terkonfirmasi dalam konteks ini. Akses layanan menjadi penentu signifikan kedua terhadap permintaan, sementara variabel demografis tidak signifikan. Pada rumah tangga Muslim pemilik hewan peliharaan, nilai religius bekerja melalui jalur normatif yang bersifat imperatif, yaitu amanah dan taklif, bukan melalui jalur afektif. Secara praktis, pelaku usaha disarankan menempatkan nilai keislaman sebagai inti positioning dan mengutamakan kemudahan akses layanan dibandingkan kampanye yang sekadar membangkitkan sentimen terhadap hewan.