Skripsi
Rising Mandate, Falling Returns; Identifying the Costs and Benefits of Indonesia?s Palm-Oil Biodiesel Programme
Pengarang:
Arbistha Ahkamilhakeem Nasir - ; Widyono Soetjipto (Pembimbing/Promotor) - ; Domdom Lydia Napitupulu (Penguji) - ; Surjadi (Penguji) -
Deskripsi
Mandat pencampuran biodiesel Indonesia telah meningkat dari B2.5 pada tahun 2008 menjadi B40 pada tahun 2025, dengan B50 direncanakan pada tahun 2026. Meskipun pemerintah menampilkan program ini sebagai effek positive untuk ekonomi, biaya dan manfaatnya tidak bergerak seiring ketika mandat dinaikkan. Studi ini mengidentifikasi manfaat dan biaya ekonomi utama program serta menelusuri perubahan masing-masing seiring kenaikan campuran. Melalui analisis literatur dengan pedoman PRISMA, lima belas studi yang terbit antara 2015 dan 2026 disintesis, mencakup enam aliran: penghematan devisa dari impor solar yang terhindarkan, manfaat makroekonomi, dan ketahanan energi di sisi manfaat; serta subsidi fiskal dan tergerusnya basis pungutan ekspor, hilangnya penerimaan ekspor minyak sawit, dan tekanan terhadap ketahanan pangan di sisi biaya. Hasil menunjukkan bahwa manfaat program nyata tetapi menurun secara marginal, sedangkan biayanya semakin cepat meningkat. Penghematan devisa bruto sekitar US$42 miliar selama 2020–2025 lebih kecil daripada penerimaan ekspor yang hilang sekitar US$58 miliar, sehingga menghasilkan kerugian bersih kumulatif sekitar US$16 miliar. Subsidi menggerus basis pendanaannya sendiri seiring menyusutnya ekspor, dan batas pasokan minyak goreng pada campuran sekitar 51,3 persen menempatkan B50 di ambang konflik pangan versus bahan bakar. Bukti yang ada mengindikasikan bahwa biaya marginal mandat melampaui manfaat marginalnya pada kisaran B40–B50, bergantung pada selisih harga minyak mentah dan minyak sawit mentah. Studi ini merekomendasikan agar kenaikan mandat selanjutnya dikaitkan dengan pertumbuhan produksi dan aturan berbasis harga, bukan jadwal tetap