Skripsi
The Impact of U.S. Monetary Policy and Inflation on Bitcoin and Ethereum Returns
Dampak Kebijakan Moneter Amerika Serikat dan Inflasi terhadap Return Bitcoin dan Ethereum
Pengarang:
Muhammad Arka Aldilla - ; Lenny Suardi (Pembimbing/Promotor) - ; Ririen Setiati Riyanti (Penguji) - ; Karina Wulandari (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini mengkaji hubungan antara kebijakan moneter Amerika Serikat, inflasi, dan return bulanan Bitcoin serta Ethereum selama periode Januari 2017 hingga Desember 2024, menggunakan kerangka EGARCH(1,1) yang diestimasi secara terpisah untuk masing-masing aset. Kebijakan moneter diukur menggunakan Federal Funds Rate (FFR) bulanan, inflasi diukur menggunakan perubahan bulanan Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat, dan return emas dimasukkan sebagai variabel kontrol.
Hasil estimasi menunjukkan bahwa perubahan FFR berhubungan negatif dan signifikan secara statistik dengan return Bitcoin pada tingkat kepercayaan 99 persen, sejalan dengan kerangka Global Financial Cycle dan jalur likuiditas yang menjadi mekanisme transmisi kondisi moneter terhadap aset spekulatif. Ethereum tidak menunjukkan hubungan yang sebanding: perubahan FFR tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan return Ethereum pada periode sampel ini.
Inflasi tidak berhubungan secara signifikan dengan return kedua aset, sehingga tidak memberikan dukungan empiris, setidaknya dalam sampel ini, terhadap narasi Bitcoin sebagai lindung nilai inflasi. Pengujian hipotesis kelima mengonfirmasi bahwa Bitcoin dan Ethereum merespons kondisi makroekonomi yang sama secara berbeda, dengan implikasi praktis langsung bahwa kedua aset tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai aset yang dapat saling menggantikan dalam portofolio, meskipun hal ini tidak menutup kemungkinan adanya manfaat diversifikasi apabila masing-masing aset dievaluasi berdasarkan profil risikonya sendiri.
Dari sisi volatilitas, kedua aset menunjukkan persistensi yang tinggi, dan Bitcoin menunjukkan respons asimetris yang signifikan secara statistik terhadap guncangan, di mana guncangan negatif menghasilkan peningkatan volatilitas yang lebih besar dibandingkan guncangan positif dengan besaran yang sama.
Hasil estimasi menunjukkan bahwa perubahan FFR berhubungan negatif dan signifikan secara statistik dengan return Bitcoin pada tingkat kepercayaan 99 persen, sejalan dengan kerangka Global Financial Cycle dan jalur likuiditas yang menjadi mekanisme transmisi kondisi moneter terhadap aset spekulatif. Ethereum tidak menunjukkan hubungan yang sebanding: perubahan FFR tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan return Ethereum pada periode sampel ini.
Inflasi tidak berhubungan secara signifikan dengan return kedua aset, sehingga tidak memberikan dukungan empiris, setidaknya dalam sampel ini, terhadap narasi Bitcoin sebagai lindung nilai inflasi. Pengujian hipotesis kelima mengonfirmasi bahwa Bitcoin dan Ethereum merespons kondisi makroekonomi yang sama secara berbeda, dengan implikasi praktis langsung bahwa kedua aset tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai aset yang dapat saling menggantikan dalam portofolio, meskipun hal ini tidak menutup kemungkinan adanya manfaat diversifikasi apabila masing-masing aset dievaluasi berdasarkan profil risikonya sendiri.
Dari sisi volatilitas, kedua aset menunjukkan persistensi yang tinggi, dan Bitcoin menunjukkan respons asimetris yang signifikan secara statistik terhadap guncangan, di mana guncangan negatif menghasilkan peningkatan volatilitas yang lebih besar dibandingkan guncangan positif dengan besaran yang sama.