Skripsi
From Investment to Invention: The Moderating Role of Collaboration in the R&D-Patent Nexus of the Global Semiconductor Sector, 2006-2020
Peran Moderasi Kolaborasi dalam Hubungan R&D-Paten Sektor Semikonduktor Global, 2006-2020
Pengarang:
Timothy Unedo Nainggolan - ; Ibrahim Kholilul Rohman (Pembimbing/Promotor) - ; Chaikal Nuryakin (Penguji) - ; Hera Susanti (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menginvestigasi determinan makroekonomi dari inovasi teknologi di industri semikonduktor global sepanjang periode 2006–2020 pada panel tingkat negara yang mencakup 20 perekonomian utama. Memosisikan analisis dalam kerangka fungsi produksi pengetahuan dari paradigma Cr?pon-Duguet-Mairesse (CDM), studi ini menguji sejauh mana intensitas kolaborasi terinstitusionalisasi memoderasi elastisitas hubungan antara pengeluaran R&D bisnis dan output paten. Menggunakan regresi data panel two-way fixed effects dan three-way interaction, kerangka empiris ini mengintegrasikan data pengeluaran spesifik sektor dari dataset EU JRC PREDICT serta data pendaftaran paten dari European Patent Office. Hasil estimasi model dasar menunjukkan bahwa pengeluaran R&D yang terisolasi secara kontemporer memberikan dampak langsung yang tidak signifikan terhadap jumlah paten, mendukung hipotesis kemacetan batas teknologi (frontier congestion) dan habisnya ide (ideas exhaustion) pada sektor teknologi tinggi yang matang. Kendati demikian, intensitas kolaborasi berfungsi sebagai pengganda efisiensi yang secara signifikan meningkatkan pengembalian marjinal dari R&D dalam jangka menengah, dengan jeda waktu selama dua tahun. Secara krusial, model three-way interaction membuktikan bahwa sinergi kolaboratif ini sangat bergantung pada kualitas National Innovation System (NIS). Ketika negara-negara maju dengan kapasitas penyerapan makroekonomi (PDB per kapita) yang tinggi dan perlindungan hak kekayaan intelektual (IPRI) yang kuat berhasil memanfaatkan jaringan inovasi terbuka, perekonomian berkembang justru menghadapi konsekuensi collaboration penalty sistemik, di mana friksi organisasi dan risiko transaksi mendilusi anggaran R&D lokal yang terbatas. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan divergensi struktural dalam intervensi negara: R&D yang didanai pemerintah (GovGERD) berfungsi sebagai katalis finansial yang memitigasi risiko aliansi multipihak, sementara R&D yang dilakukan langsung oleh institusi pemerintah (GovERD) tidak memiliki sinergi komersial jangka panjang karena menjebak pengetahuan di hulu akibat norma keterbukaan sains. Implikasi kebijakan menunjukkan bahwa tata kelola industri yang seragam tidak tepat secara struktural; negara berkembang harus memprioritaskan sekuensi kebijakan yang berfokus pada akumulasi modal manusia dan reformasi hukum terlebih dahulu sebelum memandatkan pembentukan jaringan inovasi terbuka.