Skripsi
A Comparison of Urban and Rural Internet Adoption Rates & Usage Pattern in Indonesia : Evidence from SUSENAS
Perbandingan Tingkat Adopsi dan Pola Penggunaan Internet Perkotaan dan Perdesaan di Indonesia : Bukti dari SUSENAS
Pengarang:
Muhammad Ariel Davindra Wiryawan - ; Irfani Fithria Ummul Muzayanah (Pembimbing/Promotor) - ; Dwini Handayani (Penguji) - ; Halomoan Achmadi Ringoringo (Penguji) -
Deskripsi
Studi mandiri ini mengkaji perbedaan adopsi dan pola penggunaan internet antara wilayah perkotaan dan perdesaan di Indonesia. Dengan pendekatan deskriptif-komparatif dan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (Survei Sosial Ekonomi Nasional/SUSENAS 2024), analisis dibingkai oleh kerangka kesenjangan digital bertingkat (van Deursen & van Dijk, 2019) yang membedakan kesenjangan tingkat pertama, yaitu adopsi internet, dari kesenjangan tingkat kedua, yaitu pola penggunaan yang mencakup frekuensi, tujuan, dan perangkat yang digunakan. Perbandingan dilakukan antara populasi perkotaan dan perdesaan serta didisagregasi menurut provinsi. Studi ini menemukan bahwa kesenjangan adopsi telah menyempit namun belum tertutup, dengan akses internet mencapai 79,13 persen di perkotaan dan 63,71 persen di perdesaan pada 2024, sehingga selisihnya sebesar 15,42 poin persentase, turun dari 22,51 poin persentase pada 2021. Variasi antarprovinsi tetap tajam, mulai dari hanya 4,15 persen di perdesaan Papua Pegunungan hingga 91,52 persen di perkotaan Kepulauan Riau. Meskipun demikian, penyempitan pada adopsi tidak diikuti oleh penyetaraan pada penggunaan. Akses melalui telepon seluler mendominasi sebesar 99,08 persen, dan penggunaan untuk hiburan relatif setara antara perkotaan (85,72 persen) dan perdesaan (84,55 persen), tetapi penggunaan yang lebih produktif justru timpang: layanan perbankan elektronik hanya digunakan oleh 15,42 persen pengguna perkotaan dibandingkan 4,73 persen pengguna perdesaan, penggunaan harian tercatat 94,91 persen di perkotaan dan 89,38 persen di perdesaan, dan pengeluaran telekomunikasi bulanan mencapai Rp251.824 di perkotaan dibandingkan Rp151.338 di perdesaan. Temuan ini menunjukkan bahwa penutupan kesenjangan akses tidak secara otomatis menutup kesenjangan penggunaan, sehingga kesenjangan digital di Indonesia bersifat multidimensi. Oleh karena itu, perluasan akses internet perlu disertai upaya menutup kesenjangan tingkat kedua agar konektivitas dapat diterjemahkan menjadi penggunaan yang bermakna secara ekonomi.